Harus Berani Kembangkan Hilirisasi Karet

Kita sudah anjurkan hal ini sejak lama supaya karet tidak hanya berguna untuk pembuatan ban saja, otomatis kita hanya akan bergantung pada pabrik ban

Harus Berani Kembangkan Hilirisasi Karet
surabaya.proxsisgroup.com
Sadap karet. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Meski harga karet menunjukan tren positif hingga kini, namun pengembangan hilirisasi karet masih harus tetap dilakukan. Pasalnya, langkah tersebut sebagai bentuk antisipasi jika harga karet kembali merosot.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gabkindo) Provinsi Sumsel, Alex K. Eddy mengatakan, Pemerintah diharapkan untuk berani mengembangkan hilirisasi karet, contohnya saja penggunaan aspal karet. "Kita sudah anjurkan hal ini sejak lama supaya karet tidak hanya berguna untuk pembuatan ban saja, otomatis kita hanya akan bergantung pada pabrik ban. Justru, kita kini mulai mengarahkan pemerintah untuk menggunakan karet pada produk-produk lainnya," ujarnya, Kamis (12/1)

"Dan sangat bagus sekali jika penggunaan karet untuk Aspal. Ini sudah pernah dilakukan di Thailand. Indonesia baru 2017 ini baru akan diterapkan. Jadi Bayangkan saja jika Aspal karet digunakan untuk jalan lintas Sumatera yang menggunakan ini, artinya akan ada pasar baru untuk karet," tambah Alex

Alex juga mengatakan, untuk masa depan pihaknya menganjurkan pada Balai Riset ataupun Universitas, Bagaimana karet ini bisa menjadi bahan baku produk lainnya. "Misalnya, karet bisa digunakan untuk bahan mebel sehingga untuk bahan mebel kedepan tidak hanya menggunakan kayu, yang malah akan membuat permasalahan lingkungan. Atau bisa juga nantinya karet bisa menjadi bahan campuran ton block dan lainnya. Tentunya dengan hilirisasi ini akan membuat karet punya nilai lebih," jelasnya.

Diakui Alex, memang harga karet menunjukkan tren positif sejak pertengahan Desember lalu. Hal ini pun pastinya menjadi kabar baik bagi petani karet. Namun, ia menilai harga saat ini belum bisa dikatakan aman.

"Inilah yang menjadi kekhawatiran, kami melihat saat ini masih ada faktor X, dimana ada bencana banjir di Thailand sehingga supply karet dari Thailand berkurang. Namun, saya juga tidak tahu apakah memang saat ini ekonomi fundamental di setiap negara sudah membaik. Tapi sejauh ini masih karena faktor X," ungkapnya.

Untuk itulah, Dirinya menghimbau pemerintah untuk bisa memanfaatkan momen ini agar menjaga supply dan demand stabil."Ini momen yang tepat mengajak negara ekspor lainnya seperti Thailand dan lainnya untuk duduk bersama, membuat kesepakatan agar demand dan supply seimbang, sehingga tidak lagi mengekspor secara gila-gilaan. Sejauh ini negara tujuan ekspor karet masih  Amerika Serikat, Cina, Jepang, Eropa, Korea dan India," pungkasnya.

Penulis: Rahmaliyah
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help