Meskipun Ada Badai dan Berkabut, Ribuan Pendaki Tetap Mendaki Gunung Api Dempo Pagaralam

Pendaki alam liar ini tidak hanya datang dari Sumsel seperti dari Palembang juga datang dari provinsi luar seperti Bengkulu, Lampug, Medan, Jakarta

Meskipun Ada Badai dan Berkabut, Ribuan Pendaki Tetap Mendaki Gunung Api Dempo Pagaralam
ISTIMEWA
Ilustrasi 

SRIPOKU.COM, PAGARALAM - Ribuan pendaki dari berbagai daerah di malam pergantian tahun baru memenuhi puncak Gunung Api Dempo kondisi yang ada terjadi setiap tahun.

Pendaki alam liar ini tidak hanya datang dari Sumsel seperti dari Palembang juga datang dari provinsi luar seperti Bengkulu, Lampug, Medan, Jakarta dan lainnya.

Sekjen Forpa (Forum Pecinta Alam) Kota Pagaralam, Arindi mengatakan, setiap tahun Forpa menempatkan dua pos di pintu masuk ke puncak Dempo untuk mendata dan menjaga keselamatan para pendaki yang ingin menghabiskan libur malam pergantian tahun di puncak Dempo Kota Pagaralam.

Ada dua pintu masuk ke puncak Dempo yakni satu di Kampung 4 dan satunya di lewat Ttugu Rimau.

Setiap pergantian tahun Forpa Pagaralam standby di dua pintu masuk pendakian yang ada untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diduga terjadi pada para pendaki.

"Sejuah ini belum ada laporan kejadian yang serius di malam pergantian tahun," katanya kepada Sripoku.com, Senin (2/1/2017) usai melakukan pendakian.

Badai disertai angin kencang berkabut selama sepekan terakhir melanda puncak serta sekitar kawasan Gunung Api Dempo (GAD), sedangkan hasil rekaman alat seismograf mencatat aktivitas kegempaan vulkanik terpantau nihil.

"Kondisi seperti ini memungkinkan puncak Dempo masih terbilang aman untuk pendakian. Meski demikaian, perlu juga mewaspadai badai angin kencang dan berkabut tengah melanda kawasan Gunung Dempo," ujar Ketua Pos Pemantauan Gunung Api Dempo, Mulyadi.

Mulyadi menjelaskan, bagi instansi maupun para komunitas pecinta alam yang akan melakukan aktivitas di kawasan Gunung Api Dempo (GAD), hendaknya terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak terkait, guna menghindari hal yang tidak diinginkan.

Pasalnya, gejolak fenomena alam tidak bisa diprediksi sebelumnya.

Untuk mendapatkan keakuratan data kegempaan yang terekam di alat seismograf, pihaknya melakukan peremajaan, termasuk kalibrasi alat, atau menentukan kembali kebenaran alat ukur perekam kegempaan, hingga mengganti alat yang sudah mengalami kerusakan di puncak Dempo, seperti baterai, transmiter, macpcio, seismometer hingga reseiver.

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved