Rumah Wajib Punya Sumur Resapan

Salah-satu program tim koordinasi pengelolaan sumber daya air pusat yang memantau di kawasan Sungai Musi, masing-masing rumah diwajibkan memiliki satu

Rumah Wajib Punya Sumur Resapan
SRIPOKU.COM/YULIANI
Staf khusus Meneteri PUPR, Firdaus Ali saat menanam sebatang pohon di kawasan JSC, Rabu (30/11/2016). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Gencarnya pembangunan pemukiman bakal dilakukan oleh Kementerian PU dan Perumahan Rakyat di Sumsel membuat pemerintah harus memberikan solusi untuk daerah khusus resapan air. Pembuatan resapan ini dimaksudkan untuk mengatasi titik genangan air yang semakin hari semakin meluas.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) VIII, Jarot Widyoko mengatakan, belum lama ini sudah ada tim koordinasi pengelolaan sumber daya air pusat yang memantau di kawasan Sungai Musi. Salah-satu programnya yakni masing-masing rumah diwajibkan memiliki satu sumur.

"Jadi kalau hujan langsung jatuh ke tanah dan sumur resapan, tidak mengalir ke selokan atau parit," ujarnya di sela-sela acara Hari Menanam Pohon Indonesia peringatan hari bakti PU ke-71 di lapangan tenis JSC (Jakabaring Sport Center) Rabu (30/11/2016).

Jarot menjelaskan, saat ini dibutuhkan komitmen setiap masyarakat untuk menampung air hujan yang jatuh dengan menyiapkan sumur. "Kita imbau kepada seluruh masyarakat, dari hulu dan hilir semuanya harus menyiapkan sumur. Apalagi sumur sangat bagus untuk membuat resapan," ungkapnya.

Adapun kedalaman sumur itu sendiri, disesuaikan sampai muka air maksimal. Selain itu, i tahun depan (2017-red) pihaknya juga fokus untuk penanganan banjir dengan merencanakan restorasi dan penataan. Kendati demikian, untuk menyukseskan rencana tersebut harus didukung oleh Pemkot terutama untuk penyediaan lahan dari Pemkot. "Yang menarik disini sudah banyak penduduk tapi banjir. Hujan dari atas turun ke rumah langsung ke selokan," jelasnya.

Dalam kesempatan itu pula, dirinya menyinggung untuk proyek pompa dan waduk raksasa sungai bendung masih menjadi prioritas sebagai tuan rumah Asian Games. Hanya saja waduk raksasa tersebut memang tidak bisa membebaskan air tapi memperkecil genangan air. "Pembangunan BBWS sendiri, progresnya saat ini baru 30 persen saja," ujarnya.

Sejauh ini, masih ada lahan yang belum dibebaskan dengan dana sekitar Rp12 miliar saja dengan catatan masyarakat bisa diajak kompromi dan bersedia dibebaskan lahan. "Kita belum terimbas defisit anggaran. Namun untuk proyek besar lain seperti bendungan tigadihaji memang sedang proses," ungkapnya.

Dalam kesempatan itu pula, Firdaus Ali staf khusus Menteri PUPR bidang sumber daya air mengaku untuk mengatasi banjir, pihaknya juga secara serentak melakukan kegiatan penanaman pohon di 33 provinsi se-Indonesia. Untuk Palembang sendiri, sengaja dipilih di kawasan Jakabaring sebagai penanaman simbolis. "Tahun ini kita sebar 361.202 pohon dan 160.195 pohon sudah ditanam per Oktober," terangnya.

Pada Desember mendatang pihaknya menargetkan seluruh penanaman pohon selesai. Karena umlah saat ini belum seberapa dibandingkan dengan jumlah pohon yang hilang. Jika dibiarkan saja dan tidak ada upaya penanaman, maka dikhawatirkan akan terjadi pemanasan global dan hilangnya paru-paru air. "Kita juga mengharapkan setiap masyarakat menanam pohon," tegasnya. (Editor: Abdul Hafiz)

Ikuti kami di
Penulis: Yuliani
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help