Korban Kecelakaan Laporkan Kanit Lakalantas Polres Mura ke Propam Polda Sumsel

Raudatul Jannah, korban kecelakaan lalulintas ini dengan kaki terpincang mendatangi Propam Polda Sumsel untuk melaporkan Kanit Lakalantas Polres Mura.

Korban Kecelakaan Laporkan Kanit Lakalantas Polres Mura ke Propam Polda Sumsel
SRIPOKU.COM/SUGIH MULYONO
Raudatul Jannah didampingi anak sulungnya, Ely Erlina saat ditemui di Polda Sumsel usai membuat laporan,Rabu (30/11) 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Dengan langkah kaki terpincang serta menggunakan sepasang tongkat, Raudatul Jannah (60) ditemani anak sulungnya, Ely Erlina (38), Rabu (30/11) sekitar pukul 14.00 mendatangi Polda Sumsel.

Kedatangan warga Jalan Terusan Lorong Makmur Gang Damai RT 17/3 Kelurahan Sukabangun Kecamatan Sukarami Palembang itu, untuk melaporkan Kanit Laka Lantas Polres Musi Rawas, Ipda So dan penyidik pembantu, Brigadir WP ke Yaduan Propam Polda Sumsel yang dianggap bertele-tele menangani kasus laporannya.

Ditemui usai membuat laporan, Jannah, menjelaskan, laporannya ini dilakukan berawal saat ia dan dua orang anak kandungnya, Triado Aquinaldo (35) dan Hendra Saputra (30) mengalami kecelakaan lalulintas di Jalan Lintas Provinsi Simpang Semambang Kecamatan Tanah Negeri Kabupaten Musi Rawas pada Jumat (26/2/2016) sekitar pukul 12.30 lalu hingga menyebabkan kedua anak kandungnya tersebut meninggal dunia.

"Awalnya kami itu sengaja merental mobil Daihatsu Xenia hitam BD 1709 AI dari Palembang untuk pergi ke rumah anak saya di Lubuklinggau lewat Sekayu Musi Banyuasin (Muba). Tapi saat melintas di Tempat Kejadian Perkara (TKP), tiba-tiba sebuah mobil Toyota Avanza hitam 1582 HB yang dikemudikan anggota Polsek Linggau Barat, Bripka An menabrak dari arah yang berlawanan," jelasnya.

"Akibat kejadian tersebut, dua orang anak kandung saya itu meninggal dunia. Yang satu meninggal beberapa jam kemudian sedangkan, satunya hari besoknya. Kalau saya mengalami patah kaki dan harus operasi dan dipasang pen," terangnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, dikatakannya, sehingga ia pun akhirnya melaporkannya ke Polres. Namun, hingga beberapa waktu atau sekitar lima bulan dari kejadian, laporannya tersebut tidak kunjung ditindaklanjuti hingga akhirnya ia pun mengadu ke Polda Sumsel.

"Akhirnya saya mengadu ke Polda, namun saat itu belum membuat laporan karena pihak dari Polda langsung menghubungi ke sana hingga akhirnya laporan saya ditindaklanjuti," ungkapnya.

Setelah ditindaklanjuti dan beberapa waktu kemudian, akhirnya pihak Polres mengeluarkan surat dan dalam surat tersebut menyatakan kasusnya diberhentikan alias SP3.

"Karena itu lah saya akhirnya kecewa dan memilih untuk melaporkan Kanit dan penyidiknya yang menangani kasus yang telah bertele-tele," tuturnya.

Selain itu, dikatakannya, ia juga merasa kecewa kepada orang yang menabraknya dikarenakan tidak ada sedikit pun etikat baik.

"Anak saya dua meninggal jadi korban dalam kecelakaan itu, saya patah kaki dan juga masih harus mengganti mobil rental karena itu lah saya sangat kecewa. Selain itu, saat kejadian berlangsung, uang sebesar Rp 15 juta yang merupakan hasil jual rumah juga hilang tinggal tasnya saja. Sekarang, laporan kami sudah diterima dan berharap agar segera ditindaklanjuti," katanya.

Sementara itu, Kapolres Musi Rawas, AKBP Hari Barata saat dikonfirmasi melalui ponselnya terkait dengan adanya laporan tersebut menjelaskan, hal itu merupakan hak warga untuk melapor.

"Perlaporaan silakan saja saya terbuka dan karena itu merupakan hak setiap masyarakat. Sesuai prosedur, bila penyidik salah kita proses. Tapi di era keterbukaan penyidikan, SP3 kasus selalu melalui mekanisme gelar perkara," jelasnya.

Ikuti kami di
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help