Jembatan Komering Putus, Banyak Anak Tidak Sekolah

Putusnya jembatan Komering menyebabkan banyak anak-anak yang tidak sekolah.

Jembatan Komering Putus, Banyak Anak Tidak Sekolah
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Bupati OKU Timur HM Kholid MD saat meninjau kondisi jembatan yang patah dan tidak bisa digunakan lagi. 

MARTAPURA, SRIPO –-- Patahnya jembatan Gunungbatu Kabupaten OKU Timur Selasa (29/11) lalu yang berlokasi di Kecamatan Cempaka yang berbatasan dengan Kabupaten OKI selain menganggu transportasi juga berdampak pada pendidikan anak-anak. Meskipun ada masyarakat yang menyediakan jasa penyeberangan menggunakan perahu, namun hal itu tidak digunakan karena mereka beralasan lokasi sekolah yang masih jauh.

Bupati OKU Timur HM Kholid MD yang tiba dilokasi Rabu (30/11) sekitar pukul 14.00. Menjadi sasaran warga yang meminta segera memperbaiki jembatan tersebut. Beberapa warga terdengar berteriak dan meminta agar jembatan tersebut segera diperbaiki.

“Tolong pak perbaiki jembatan itu, kalau tidak anak kami tidak bisa sekolah, dan kami juga tidak bisa kemana-mana karena transportasi tidak lancar,” ungkap Aminah (39) salah satu warga yang berbincang kepada Kholid, Rabu (30/11/2016).

Menurut Aminah, putusnya jembatan tersebut menyebabkan banyak anak-anak yang tidak sekolah meskipun ada jasa penyeberangan menggunakan perahu. Hal itu disebabkan karena untuk menuju lokasi sekolah lokasinya masih cukup jauh dari lokasi jembatan dan harus menggunakan sepeda motor atau kendaraan lain.

“Sedangkan untuk ikut menyeberangkan sepeda motor bayarannya Rp. 15 Ribu per motor dan untuk orang Rp. 5000 per orang. Kalau bolak balik sudah naik menjadi Rp. 30 Ribu per hari. Jadi diputuskan untuk tidak sekolah sementara,” katanya.

Menurutnya, bukan hanya anaknya saja yang terpaksa harus meliburkan diri karena putusnya jembatan tersebut, beberapa siswa lain juga terpaksa harus menunggu jembatan tersebut bisa dilalui untuk bisa bersekolah.

“Memang ada kawan mereka yang diseberang sungai yang bisa ditumpangi kendaraan menuju sekolah. Namun tidak bisa setiap hari. Yang jelas putusnya jembatan ini membuat kami putus asa,” katanya.

Sedangkan dari pengamatan, meskipun jembatan putus, akses transportasi tetap lancar dengan menggunakan perahu. Hanya saja pengeluaran masyarakat meningkat untuk menyeberanginya karena harus menggunakan jasa perahu dengan ongkos yang berpariasi mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 20 Ribu untuk barang dan sepeda motor.

 Sedangkan harga untuk sayuran yang akan dijual di Palembang tidak bisa dinaikkan. Jadi terpaksa kami mengambil keuntungan meskipun sedikit. Robohnya jembatan berdampak pada banyak hal,” katanya.

Menurutnya, bisa saja mereka menggunakan jalan alternatif baik dengan cara melalui Martapura dan kabupaten OKU dengan jarak tiga kali lipat atau dengan melalui Dabuk melalui LPI dan tembus ke Lintas Timur. Namun hal itu sangat mustahil dengan kondisi musim penghujan seperti ini.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Evan Hendra
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help