SriwijayaPost/

Mengapa Isi BBM Lebih Baik pada Malam Hari?

Salah satu sifat bahan bakar minyak (BMM) yakni memuai dan menguap di dalam tangki jika suhunya bertambah. Menurut penjelasan peneliti dari Institut T

Mengapa Isi BBM Lebih Baik pada Malam Hari?
SRIPOKU.COM/EVAN HENDRA
Ilustrasi. 

SRIPOKU.COM , Jakarta – Salah satu sifat bahan bakar minyak (BMM) yakni memuai dan menguap di dalam tangki jika suhunya bertambah. Menurut penjelasan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Ing Ir Tri Yuswidjajanto Zaenuri, perlu diketahui ternyata hal ini memengaruhi pembelian ritel BBM.

Berita Lainnya:  Pertamina: Agar tak Dicurangi di SPBU, Setelah Isi BBM Jangan Lupa Ambil Struk Transaksi

BBM di tangki stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), khususnya ketika kondisi cuaca panas terik, bisa memuai dan menguap. Dampaknya, saat BBM dikonsumsi kendaraan konsumen, jumlah liter yang tertera pada dispenser bisa jadi lebih besar dan tidak sesuai dengan massanya. Itu artinya konsumen perlu membayar lebih banyak.

“Kan kita bayar rupiah per liter, ketika temperaturnya tinggi liternya bertambah padahal massanya tetap. Berarti yang kita bayar lebih untuk mendapatkan massa yang sama,” ucap Tri yang menyarankan lebih baik mengisi BBM pada malam hari ketimbang siang, Senin (21/11/2016).

BBM berbentuk cairan memuai ketika panas, cairan ini yang dihitung pada dispenser dalam jumlah liter, sedangkan uap tidak. Tangki SPBU punya mekanisme khusus yang menyalurkan uap ke posisi dasar tangki.

Walau jumlah liter dengan massa bisa berbeda, perbedaan ini pada konsumen tidak signifikan karena skalanya sangat kecil.

“Bedanya enggak sampai setengah liter juga. Misalnya densitas BBM 0,78 kg per liter, tergantung kenaikan temperatur, misalnya cuma menjadi 0,75 kg per liter. Ini kan bedanya kecil sekali, tapi kalau skala industri tentu berpengaruh makanya ada cara khusus menghitung namanya liter 15,” ucap Tri.

Skala industri
Pembelian BBM dalam skala industri bisa mencapai kilo liter maka itu butuh penyeragaman agar tidak ada pihak yang dirugikan. Penyeragaman itu dikenal dengan nama Volume Corection Factor (VCR) menggunakan tabel ASTM 54.

Penghitungan volume BBM dilakukan berdasarkan suhu 15°C, satuan internasional ini digunakan untuk mendapatkan volume bersih dalam satuan kilo liter. Jadi, di manapun BBM diukur volumenya, dikonversi dulu ke temperatur 15°C berdasarkan tabel.

“Jadi, ketika truk tangki datang, temperatur dan densitas BBM-nya diukur. Setelah itu dikonversi, jika bersuhu 15 °C kira-kira densitasnya berapa, itu yang dipakai sebagai transaksi biar adil. Jadi diterima rupiah per liter kalau BBM itu temperaturnya 15 °C. Itu dikonversi lewat tabel,” urai Tri.

Tanggapan Pertamina
"Pak Tri narasumber yang kredibel. Kami yakin beliau paham akan materi yang disampaikan," ujar VP Corporate Communication Pertamina Wianda Puspanegoro.

Penulis : Febri Ardani Saragih

Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help