Memperbaiki Citra Kopi Sumatera Selatan, Mengangkat Harga Diri

Biji kopi yang dikeringkan di atas aspal dan dilindas oleh ban mobil bukanlah yang diinginkan oleh konsumen dunia.

Memperbaiki Citra Kopi Sumatera Selatan, Mengangkat Harga Diri
Dokumentasi Coffeephile
Kopi Sumatera Selatan 

Oleh: Imam Wibisono, SP.
Mahasiswa Magister Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Imam Wibisono SP

DALAM lingkup industri kopi nasional, kopi asal Sumatera Selatan acapkali dipandang sebelah mata.

Meski sempat menjadi primadona pada saat VOC berkuasa, kopi Sumatera Selatan saat ini tak punya nama.

Biji kopi yang dipanen asalan dan pasca panen yang serampangan makin memperparah citra buruk yang disematkan terhadap kualitas kopi asal bumi sriwijaya.

Anugerah sebagai produsen kopi terbesar di Indonesia tak jua lekas membuatnya digdaya.

Kualitas masih menjadi permasalahan yang utama.

Biji kopi yang dikeringkan di atas aspal dan dilindas oleh ban mobil bukanlah yang diinginkan oleh konsumen dunia.

Parahnya, mayoritas petani kopi Sumsel ‘disinyalir’ melakukannya.

Meskipun ada sebagian kecil yang telah tercerdaskan untuk memperbaiki mutunya, dampaknya telah terlanjur viral.

Stereotipe kopi aspal atau kopi karet ban menjadi julukan yang menakutkan yang menghambat perkembangan kopi asal Sumatera Selatan.

Halaman
1234
Editor: Sudarwan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help