Menghentikan Angkutan Batubara Harus Serius dan Kompak

"Saat ini, masih ada angkutan batubara dari Perusda Lahat yang izinnya belum habis," ujar Kadishub Muaraenim.

Menghentikan Angkutan Batubara Harus Serius dan Kompak
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Akmaludin, Kabid Angkutan Dishub Muaraenim. 

SRIPOKU.COM, MUARAENIM---Meski larangan melintas angkutan batubara sudah diterbitkan oleh Dishub Sumsel, namun kenyataannya di lapangan masih saja ada angkutan batubara yang lolos melintas di Jalinsum.

"Kita di lapangan memang kesulitan dan banyak temui kendala menertibkan angkutan batubara. Apalagi saat ini, masih ada angkutan batubara dari Perusda Lahat yang izinnya belum habis," ujar Kadishub Muaraenim melalui Kabid Angkutan Akmaludin SH, Jumat (30/9/2016).

Menurut Akmaludin, bahwa berdasarkan hasil rapat tanggal 21 September 2016 dengan Dirut Perusda Pertambangan dan Energi Kabupaten Lahat Mahmud Ibrahim, itu ada beberapa item yang harus dipenuhi oleh Perusda Lahat seperti masalah menyiapkan petugas di pos TPR untuk mengecek keabsahan sopir dan mobil dari Perusda.

Menyiapkan kendaraan patroli jika ada kendaraan yang rusak atau kecelakaan, meminta angkutan batubara dari Perusda Lahat untuk tidak menumpuk di Jalinsum.

Selain itu juga, mereka harus kontinyu melakukan sosialisasi mengenai kegiatan transportasi batubara dari Lahat - Muaraenim ke pelabuhan PT EPI. Namun kenyataannya, hingga sampai saat ini, belum ada kabar dan realisasinya.

"Jika dari izin yang Perusda Lahat miliki itu sampai tanggal 20 Oktober 2016. Dan jika tidak diperpanjang lagi, maka pihaknya akan menyetop seluruh angkutan batubara tanpa kecuali lagi," ujar Akmaludin.

Dan yang menjadi kendala saat ini, kata Akmaludin, masih belum kompaknya elemen masyarakat di Kabupaten Muaraenim dalam hal mengatasi angkutan batubara ini.

Sebab jika memang serius ingin menertibkan dan menghentikan harus kompak, mulai dari hulu hingga ke hilir, seluruh Kabupaten/Kota yang dilintasinya dan Provinsi Sumsel.

"Sebab kami (Dishub Muaraenim) merasa disudutkan, padahal wewenang kami terbatas hanya di terminal saja. Selain itu juga, tidak mungkin menjaga angkutan batubara selama 1 x 24 jam untuk tidak melintas, sehingga ketika petugas lengah dan kecapean mereka kadang-kadang lolos dengan menerobos atau melintas dari jalur dalam kota Muaraenim pada tengah malam," jelas Akmaludin..

Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help