SriwijayaPost/

Setelah Menelusuri, Djarot Pastikan Ilyas Karim Bukan Pengibar Bendera Pertama

Ilyas Karim merupakan warga yang terdampak penertiban di Rawajati JakSel. Namun, Djarot mengatakan Ilyas Karim bukanlah pengibar bendera pertama

Setelah Menelusuri, Djarot Pastikan Ilyas Karim Bukan Pengibar Bendera Pertama
facebook
Foto Ilyas Karim, veteran yang rumahnya digusur ini viral di Facebook 

SRIPOKU.COM, JAKARTA - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan penertiban di Jakarta seringkali dipolitisasi. Salah satunya adalah mengenai pengakuan seorang veteran, Ilyas Karim, yang menyebut dirinya sebagai pengibar bendera Merah Putih pertama. Ilyas Karim sendiri merupakan warga yang terdampak penertiban di Rawajati, Jakarta Selatan. Namun, Djarot mengatakan Ilyas Karim bukanlah pengibar bendera pertama.

"Kemarin dipolitisasi betul itu yang katanya ada pengerek bendera, kami telusuri enggak betul itu," ujar Djarot saat menjadi pembicara dalam diskusi umum bertema "Kerja Nyata untuk DKI Jakarta" di Eightyeight Kasablanka, Sabtu (3/9/2016).

Djarot mengatakan Ilyas pernah diberi satu unit apartemen di Kalibata City karena sempat dipercaya menjadi pengibar bendera pertama. Namun, unit apartemen itu dia jual dan dia kembali lagi ke Rawajati. "Jadi ngaku-ngaku pengibar bendera padahal dia enggak. Tapi kalau dia anggota tentara itu memang iya," ujar Djarot.

Penjelasan Djarot mengenai Ilyas Karim sebenarnya untuk menjawab pertanyaan Tongari, salah satu peserta diskusi. Tongari yang tinggal di Kalibata menceritakan mengenai penertiban Rawajati yang banyak dipolitisasi.

Menurut dia, pemandangan warga Rawajati yang sholat di tengah jalan saat hari penertiban merupakan langkah politis. Meski demikian, Tongari berpendapat Pemprov DKI tetap harus melakukan pendekatan yang humanis saat melakukan penertiban. Djarot pun mengatakan Pemprov DKI tetap harus melakukan penertiban itu. Sebab, pemerintah tidak boleh membiarkan warga untuk melanggar aturan. "Kita enggak bisa mendidik masyarakat kita untuk melanjutkan sebuah pelanggaran," ujar Djarot.

Editor: wartawansripo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help