Tim Riset Temukan Pola Suara Tidak Sah

Pola Suara tidak sah sebagai hasil riset yang telah dilaksanakan sejak April 2016 ini telah dipublikasikan di hadapan media cetak dan elektronik

Tim Riset Temukan Pola Suara Tidak Sah
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Diseminasi riset partisipasi masyarakat dengan tema Pola suara tidak sah dalam Tahun 2014 di Sumsel dan faktor penyebabnya di Kantor KPU Sumsel, Rabu (24/8/2016). Penelitian yang dilaksanakan Magister Ilmu Politik Universitas Taman Siswa Palembang dan Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumsel. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Tim Riset kerja sama antara KPU Provinsi Sumatera Selatan dan Program Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Taman Siswa Palembang menemukan pola suara tidak sah dalam Pemilu Legislatif 2016 lalu di Sumatera Selatan.

Pola Suara tidak sah sebagai hasil riset yang telah dilaksanakan sejak April 2016 ini telah dipublikasikan di hadapan media cetak dan elektronik serta para panelis di KPU Provinsi Sumatera Selatan, Rabu (24/8/2016).

Dalam paparanya tim riset yang dipimpin Drs H Joko Siswanto MSi yang juga mantan komisioner KPU Provinsi Sumatera Selatan ini menggambarkan determinasi akurasi pemilih di Sumatera Selatan yang menyebabkan surat suara tidak sah yaitu Pemilih Masuk Ke Bilik Suara tetapi tidak mencoblos surat suara.

Pemilih Mencoblos Surat Suara Lebih Dari Satu Pilihan, Pemilih Mencoblos Surat Suara Pada Posisi Yang Tidak Tepat atau Diluar Kota Yang DItentukan, Pemilih Mencoblos Surat Suara Tanpa Terlebih Dahulu Membuka Surat Suara dan Pemilih Mencoblos Tanpa Menggunakan Alat yang Disediakan.

Kondisi ini menimbulkan perilaku memilih di Sumatera Selatan dalam Pemilu Legislatif 2016 lalu.

Usai paparannya, para panelis terdiri dari Dr Drs Ardiyan Saptawan MSi dan Maramis SH MHum langsung mengkritisi hasil riset.

Maramis menganalisis mengenai masalah riset yang dimulai dari pertanyaan mengapa yang jarang digunakan dalam bahasa ilmiah sehingga kurang tepat untuk digunakan.

Sebaiknya menggunakan pertanyaan “Bagaimana” dan “Apakah” sehingga bisa diterima secara ilmiah.

Demikian pula dengan jumlah responden yang harus terus ditambah dan pertanyaan yang menggiring opini coba untuk diihindarkan sehingga tidak bisa dibenarkan.

Hal lain disampaikan Ardiyan Saptawan yang mempertanyakan hasil perilaku masyarakat sumatera selatan bukan pada perilaku sebagai hasil riset.

“Hasil riset fokus pada hasil perilakunya bukan pada perilakunya dari pola surat suara yangtidak sah,” kata Ardiyan.

Pendapat lain disampaikan Alexander Abdullah dan Liza Lizuarni komisioner KPU Sumsel yang mengkritisi sistematika penulisan serta Ahmad Naafi komisioner yang menyoroti tentang perilaku pemilih yang dianalisis menggunakan pendekatan sosiologis (Teori Colombia) dan pendekatan Psikologis (Teori Michigan).

Menurut Naafi terhadap lima pola suara tidak sah tersebut belum tergambar jelas analisis teori Michigan dan Teori Colombia terutama pada pola surat suara Pemilih mencoblos tanpa menggunakan alat yang disediakan mengingat para key informan tidak memberikan argumentasi terhadap penyebab pola surat suara tidak sah ini.

Terhadap berbagai masukan para panelis dan peninjau ini, Tim Riset memberikan apresiasi dan akan memperbaiki hasil penelitianya sebelum diserahkan kepada KPU Provinsi Sumatera Selatan.

Menurut Dr Maulana, Tim riset akan memperjelas penjabaran teori tersebut dalam bentuk pola surat suara yang ditemukan dan akan menyesuaikan pula dengan variabel-variabel pemilih di Sumatera Selatan.

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved