Pilih Parpol atau Independen, Nur Kholis Bimbang

"Kalau maju ini artinya harus siap, karena kita sudah dipercaya dan ditunjuk oleh pihak yang memang percaya kita," ujarnya.

Pilih Parpol atau Independen, Nur Kholis Bimbang
SRIPOKU.COM/YULIANI
Nur Kholis (baju batik biru tengah) saat melakukan salam komando bersama tim relawannya. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --Bursa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 di Sumsel mendatang kian ramai. Pilkada serentak ini bakal memilih 7 kepala daerah kabupaten dan kota, sementara 1 lagi untuk provinsi.

Khusus Pilgub, tak hanya wajah-wajah lama yang bakal mengisi pertarungan memperebutkan kursi Sumsel-1 ini. Para wajah baru juga sudah mulai bermunculan, salah satunya Nur Kholis yang pernah menjabat sebagai ketua Komnas HAM selama dua priode.

Bakal majunya Nur Kholis ke pencalonan Gubernur dalam pertarungan Pilkada 2018 nanti tak lain merupakan pengamatannya terkait hasil Pilkada sebelumnya dimana para pemimpin belum mengalami perubahan yang siginifikan.

"Kalau maju ini artinya harus siap, karena kita sudah dipercaya dan ditunjuk oleh pihak yang memang percaya kita," ujarnya dalam jumpa pers di Musi Kafe Palembang, Minggu (10/7/2016).

Pria yang saat ini menjabat selaku komisioner komnas HAM mengatakan, masa transisi demokrasi indonesia diwarnai dengan munculnya tokoh dari daerah yang keberpihakannya ke rakyat harus jelas. Baginya, ini bukan hanya soal jabatan Gubernur saja. Siapapun dalam kontes demokrasi boleh menciptakan tokoh-tokoh yang sesuai dengan kehendak zaman.

"Perlu kebaikan dan keberanian sekaligus untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan. Kalau tidak ada jawaban atas permasalahan tersebut maka omong kosong belaka," tegasnya.

Disinggung soal apakah menempuh jalur independen atau partai politik (parpol), pria kelahiran Sungai Lilin, 21 Oktober 1970 ini bersama tim relawannya masih ingin mempelajari terlebih dahulu. Mengingat parpol saat makin rasional.

"Ada dua kungkinan, bisa lewat parpol bisa juga lewat independen. Sedari awal sudah merancang apa yang akan dilakukan pada Pilkada 2018 nanti. Karena kita ingin menjawab persoalan yang ada. Jika memang terbuka peluang untuk ke parpol, apa salahnya untuk langkah berikutnya. Namun untuk jalur indpenden akan kami lihat dulu," ungkapnya.

Soal kandidat calon wakil Gubernur yang akan mendampinginya nanti, ia menyerahkan sepenuhnya pada proses yang berjalan. Karena untuk memilih calon wakil tidak bisa sembarangan, visinya harus sama.

"Wakil itu bukan orang yang hanya duduk, tapi bagi tugasnya harus jelas. Kita akan berbagi power, jangan ada pemborasan di birokrasi. Harus efisien, maka itu elektabilitas dan popularitas menjdi perhatian kami. Tentu akan kami kaji ke depannya karena saat ini sedang merumuskan dan menarik pendapat," ujar alumni Fakultas Hukum Unsri ini.

Sementara itu, beberapa nama yang bakal maju dalam kandidat cagub dan cawagub dalam Pilkada 2018 nanti sudah bermunculan. Sebut saja pesohor lama, Syahrial Oesman yang juga mantan Gubernur Sumsel. Ada juga Aswari, yang saat ini Bupati Lahat. Kemudian Herman Deru, dan lainnya. (Editor: Yuliani)

Penulis: Yuliani
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved