SriwijayaPost/

Kultum

Memetik Kemenangan

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaha Illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd”. Kalimat ini mulai terdengar dari masjid,

Memetik Kemenangan
gambarbbm.com
Ilustrasi, Takbiran.

Oleh : Dr. Muhammad Noupal, MA

SRIPOKU.COM - Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Laa ilaha Illallahu wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd”. Kalimat ini mulai terdengar dari masjid, musala atau langgar yang ada di sekitar kita. Gema takbir terus menerus dikumandangkan membahana di angkasa menandakan masuknya hari raya Idul Fitri. Kumandang takbir di akhir Ramadan ini merupakan salah satu anjuran agama sebagaimana firman Allah, "Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangan (hari yang ditentukan) dan hendaklah kalian bertakbir kepada Allah atas petunjuknya kepada kalian, agar kalian bersyukur “(Q.S. al-Baqarah : 185).

Berita Lainnya: Takwa Lahir dan Takwa Batin

Takbiran menandakan bahwa setelah sebulan berpuasa, saatnya kita memetik kemenangan. Yang ditandai dengan kembali pada fitrah insan yang penuh kesucian. Nabi mengingatkan, “Barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” begitu sabda Nabi.

Takbiran juga berarti membesarkan Allah semata-mata. Karena hanya Dia yang Maha Besar. Dengan bertakbir, Allahu Akbar, kita mengecilkan diri kita dengan penuh kesadaran. Kekayaan, jabatan, dan segala hal yang kita punya tak layak menjadikan diri kita bersikap sombong, angkuh dan berbangga. Karena itu dengan bertakbir, kita buang keangkuhan, kesombongan, dan kebanggaan atas seluruh hal yang kita miliki. Dengan takbir, kita memuji Allah dan berusaha menjadi hamba-Nya yang sejati; yang mengabdi total kepada-Nya. Dengan takbir, kita kuburkan takabbur. Seperti firman Allah, "Lalu para malaikat itu bersujud semuanya kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan dia termasuk golongan yang kafir” (Q.S. Shad : 73-74). Dan karena kesombongannya itulah, seluruh amal ibadah iblis menjadi gugur.

Hari-hari Ramadan telah memasuki detik-detik perpisahan. Hari-harinya tinggal tersisa dalam hitungan jam saja. Ibarat pementasan sebuah drama, kita hampir sampai pada ujung akhir sebuah cerita. Dan biasanya, pada saat itulah kita akan merasakan semacam emosi yang lebih dalam. Ada sedih tapi ada juga gembira. Sedih, karena kita tidak akan mendapatkan suasana seperti bulan Ramadhan. Senang, karena kita mampu keluar dari ujian yang sangat berat.

Sayangnya, kegembiraan sehabis melaksanakan puasa terkadang pupus hanya karena eforia yang berlebihan. Kegembiraan itu mulai hilang perlahan seiring dengan kesibukan kita menghadapi lebaran. Kesibukan atas baju baru, kue kering, ketupat, daging atau rencana mengisi liburan di Hari Raya. Atas kegembiraan itu isi kantong kita kuras, tabungan kita tarik dan barang berharga sementara waktu kita gadaikan. Semuanya kita lakukan agar hari raya ini kita hadapi dengan yang serba baru, serba lezat dan serba menyenangkan.

Tetapi bagaimana dengan pengalaman ruhani dan ketaatan kita pada saat Ramadan? Apakah kesungguhan meraih ampunan, pahala dan malam kemuliaan sama kerasnya seperti usaha kita menghadirkan kebahagiaan itu? Barangkali pertanyaan seperti ini sangat mahal untuk dijawab, bahkan boleh jadi tidak dikehendaki sama sekali.

Bukanlah rahasia, di antara kita ada yang tidak peduli dengan puasa tetapi hanya peduli dengan baju baru dan segala pernak-pernik hari raya. Ada juga diantara kita yang bermuka kecut saat Ramadan tiba; tetapi tertawa lebar ketika tiba Hari Raya. Mari kita berkaca pada generasi terbaik dari umat Nabi Muhammad; yang ketaatannya tidak pernah lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Generasi yang rela menggenggam bara api, asalkan agamanya selamat. Generasi yang tidak sungkan menanggalkan baju dan hartanya demi fakir miskin. Generasi yang lebih merindukan kematian syahid, asalkan Islam tetap berwibawa di mata para musyrikin. Pada generasi ini, wajah terlihat berseri ketika Ramadhan tiba. Dan mengalir air mata duka saat Ramadhan tinggal menghitung jari.

Ringkasnya, Ramadan adalah salah satu puncak kemesraan dalam munajat dengan Allah Yang Maha ”Cantik”. Satu bulan fasilitas nikmat Allah bagi yang ingin mereguk kenikmatan beribadah siang dan malamnya. Maka wajarlah apabila ada manusia-manusia “sekelas” sahabat dan tabi’in menjadi orang yang paling gembira saat Ramadhan tiba dan menjadi yang paling berduka saat ia pergi meninggalkannya. Mereka gembira dan larut dalam lautan zikir dan taqarrub seakan ingin agar sepanjang tahun adalah Ramadhan.

Editor: Bedjo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help