Sebarkan Ilmu Komputer, Microsoft Gandeng NGO

Microsoft menggelar konferensi Philantropies perdana. Raksasa software ini memilih Singapura sebagai tempat penyelenggaraan pertama acara tersebut.

Sebarkan Ilmu Komputer, Microsoft Gandeng NGO
http://tekno.kompas.com/Yoga Hastyadi Widiartanto
Corporate Vice President, Microsoft Philantropies, Mary Snapp saat bicara di hadapan organisasi non pemerintah dan media, di kantor Microsoft Singapura, Selasa (27/6/2016). 

SRIPOKU.COM, SINGAPURA - Microsoft menggelar konferensi Philantropies perdana. Raksasa software ini memilih Singapura sebagai tempat penyelenggaraan pertama acara tersebut.

Berita Lainnya: Lewat Cloud, Microsoft Awasi Peredaran Ganja

Konferensi ini merupakan ajang yang mempertemukan berbagai Non Govermental Organisation (NGO) atau organisasi di luar pemerintah untuk saling bertukar pengalaman dan mencari solusi terhadap satu masalah.Sekitar 32 organisasi NGO ikut hadir dalam acara ini.

Konferensi Philantropies digelar pada 28-29 Juni lalu, membicarakan mengenai cara untuk membuka peluang kehidupan yang lebih baik. NGO yang ikut serta rata-rata bergerak di bidang pendidikan untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah.

Corporate Vice President, Microsoft Philantropies, Mary Snapp berpendapat, industri saat ini sedang mengalami revolusi seiring dengan perkembangan teknologi digital. Selanjutnya pada satu titik, industri yang ada saat ini akan makin banyak mengadopsi otomatisasi sehingga bisa mempengaruhi ketersediaan pekerjaan.

Oleh karena itu, salah satu cara membuat orang bisa mendapatkan peluang baru adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya dan memberikan skill tertentu. Dalam hal ini, yang paling relevan dengan abad ke-21 adalah pendidikan mengenai sains, teknologi, teknik (engineering), dan matematika (STEM), termasuk di dalamnya ilmu komputer.

“Kita perlu lebih banyak ilmuwan dan teknisi komputer. Tapi bukan cuma itu. Banyak pekerjaan yang tadinya biasa akan berubah jadi membutuhkan skill tertentu. Contohnya pengasuh anak (daycare), suatu saat akan membutuhkan skill komputasi untuk data dan mengolah data mengenai kegiatannya,” ujar Mary kepada peserta konferensi, termasuk wartawan Kompas.com, Yoga Hastyadi Widiartanto.

“ICT, internet dan digital adalah revolusi industri berikutnya. Karena itu bekal ilmu mengenai science, technology, engineering and math (STEM) akan bisa membuka kesempatan baru bagi banyak orang di masa depan,” imbuhnya.

Tak bisa sendirian
Microsoft memang tak bisa sendirian mengolah solusi untuk banyak orang. Karena itu mereka menggandeng berbagai organisasi non pemerintah dari berbagai belahan dunia sebagai perpanjangan tangan mereka.

Oganisasi yang dimaksud mendapatkan akses ke berbagai alat pendidikan dan peranti lunak buatan Microsoft. Mereka tinggal memakainya saja, misalnya untuk mengadakan workshop atau sebuah kelas belajar yang ditujukan pada anak-anak dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah.

Contohnya, salah satu organisasi non pemerintah dari Indonesia, yaitu Yayasan Aku Cinta Anak Bangsa (YACB). Yayasan ini memakai aplikasi Kodu buatan Microsoft untuk meningkatkan minat mendalami ilmu komputasi dan memakai Azure untuk membuat platform berisi berisi kursus gratis serta info pekerjaan khusus lulusan SMA.

Sekadar diketahui, sebelum mengadakan Philantropies, Microsoft memiliki proyek tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bernama Citizenship yang berlangsung dari 2003 hingga 2015. Keduanya punya konsep yang berbeda.

Citizenship merupakan tanggung jawab sosial yang difokuskan dalam pemberdayaan pemuda saja. Sedangkan Philantropies merangkum lebih banyak hal, mulai dari pendidikan untuk anak-anak, penanganan bencana alam, hingga soal pendidikan untuk para pengungsi perang.

Penulis : Yoga Hastyadi Widiartanto

Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help