Pengendara Mobil Kaget Kawanan Gajah Liar Melintas di jalanan PALI

Keluarnya hewan lindung itu disebabkan banyak pembukaan lahan perkebunan secara besaran-besar di MHP dan warga.

Pengendara Mobil Kaget Kawanan Gajah Liar Melintas di jalanan PALI
ISTIMEWA
ILUSTRASI: Kawanan gajah melintas di sebuah jalan raya sehingga memacetkan lalu lintas. 

SRIPOKU.COM, PALI -- Warga Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dihebohkan dengan hadirnya segerombolan gajah liar menyeberangi jalan antar perbatasan Simpang Solar - Suban Desa Simpang Solar Kecamatan Talang Ubi tepatnya di Unit 8 PT Musi Hutan Persada (MHP).

Menurut warga setempat, keluarnya hewan lindung itu disebabkan banyak pembukaan lahan perkebunan secara besaran-besar di MHP dan warga. Pada akhirnya habitat hewan lindung itu terusik dan mencari makan tak jauh dari permukiman penduduk.

Pada Minggu (3/4/2016) malam, Farlin bersama rombongannya dikagetkan melihat gerombolan gajah liar melintas di antara jalan Simpang Solar dan Suban tepatnya di Unit 8 PT MHP yang berjarak sekitar 8 kilometer dari lokasi mancing.

"Malam itu kami pulang mancing di Desa Sungai Baung. Sewaktu kami hendak pulang melintas di jalan Simpang Solar - Suban, ada 7 ekor gajah menyeberang jalan masuk ke hutan," kata Farlin ketika mengobrol santai di komplek Pertamina Pendopo, Selasa (5/4/2016).

Farlin menceritakan, jarak antara gajah dengan kendaraan mobil Ford Ranger yang ditumpangi sekitar 10 meter. Rombongannya yang ada di dalam mobil itu, langsung kaget melihat gajah liar melintas di jalan.

"Jadi kawan kami dalam mobil itu langsung jerit gajah-gajah. Kalau aku sudah biasa lihat gajah di arah jalan PT MHP. Sopir kami melihat gajah menyeberang langsung mengerem mendadak. Untung gajah itu tidak tertabrak," cerita Farlin, warga Pendopo.

Segerombolan gajah yang berkeliaran itu, kata Farlin, disebabkan habitat lingkungan dijadikan pembukaan lahan secara besar-besaran, sehingga gajah itu keluaran untuk mencari makanannya.

"Jarak dari segerombolan gajah melintas, sekitar 1 kilometer dari permukiman penduduk di desa persiapan Simpang Solar. Gajah itu keluar karena kelaparan, karena habitatnya dijadikan lahan perkebunan," jelas Farlin.

Sementara itu, Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Tata Usaha (TU) Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumatera Selatan, Sunyito, SH menyatakan, setiap perkebunan Hutan Tanam Industri (HTI) diwajibkan menyisakan 10 persen hutan konservasi dari luas HTI.

"Aturan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, HTI diwajibkan menyisakan 10 persen untuk hutan konservasi. Jika itu tidak dipenuhi maka yang bersangkutan berarti melanggar aturan. Diizin HTI sudah dijelaskan untuk hutan konservasi," ujar Sunyito.

Ia menambahkan, dahulunya tahun 2008, ada 28 gajah masuk dalam permukiman penduduk dan merusak lahan warga setempat. Kita tangkap sebanyak 15 ekor gajah liar di lokasi itu, kemudian masuk Pusat Pelatihan Gajah(PPG).

"Tahun 2008 di daerah HTI, di daerah itu (PALI), 28 ekor gajah masuk di permukiman penduduk dan merusak lahan warga, kami turun dan menangkap 15 gajah masuk PPG," ujarnya.

Jika ada pengaduan dari masyarakat, maupun PT MHP, terkait gajah liar masuk permukiman penduduk, lanjut Sunyito, pihaknya siap turun tangan menangani masalah tersebut.

"Kalau ada pengaduan masyarakat, baik PT MHP adanya gajah masuk permukiman penduduk, kita siap turun lokasi tersebut," jelas Sunyito.

Editor: Soegeng Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved