Polda Sumsel Bongkar Sindikat Pengoplos Gas Elpiji

Polda Sumsel membongkar sindikat pengoplos gas ilegal dari tabung gas 3 kilogram bersubsidi ke dalam tabung gas 12 kg non subsidi.

Polda Sumsel Bongkar Sindikat Pengoplos Gas Elpiji
SRIPOKU.COM/SUGIH MULYONO
Tersangka pengoplos gas melon subsidi ke tabung gas 12 non subsidi saat diamankan beserta barang bukti di Polda Sumsel, Senin (21/3). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Subdit I Industri Perdagangan dan Asuransi (Indagsi) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumsel, berhasil membongkar sindikat pengoplos gas ilegal dari tabung gas 3 kilogram bersubsidi ke dalam tabung gas 12 kg non subsidi.

Terbongkarnya pengoplos gas elpiji tersebut saat petugas menggerebek tersangka Pegi Putra (25) bersama kedua rekannya, Akbar dan Tami yang tengah mengoplos gas di kawasan Talang Jambe RT 16/4 Kelurahan Talang Jambe Kecamatan Sukarami Palembang, Minggu (20/3) sekitar pukul 11.00.

Dari penggrebekan tersebut, turut juga disita barang bukti berupa tabung 12 kg sebanyak 33 tabung, tabung 3 kg sebanyak 169 tabung, lima unit alat untuk mindahkan gas, satu timbangan 50 kg, 250 karet sil beserta 24 segel plastik dan sebuah mobil Daihatsu Grand Max BG 9016 JB.

Dir Ditreskrimsus Polda Sumsel Kombes Pol Sabaruddin Ginting, melalui Kasubdit Indagsi AKBP Ferry Harahap saat gelar tersangka dan barang bukti di Polda Sumsel, Senin (21/3), mengatakan, tersangka berhasil ditangkap setelah terbukti melakukan pemindahan isi gas elpiji 3 kg bersubsidi ke tabung 12 kg.

"Modus yang dijalankan tersangka Pegi dengan mengumpulkan gas elpiji 3 kg bersubsidi. Kemudian, bersama kedua karyawannya melakukan pemidahan isi gas 3 kg ke tabung gas 12 kg dengan cara pipa besi bolong dan behel dimasukan didalam palep di atas tabung gas 12 kg," jelasnya.

Setelah selesai mengoplos atau memindahkan, dikatakan Harahap, tersangka Pegi pun langsung mengedarkannya ke warung-warung.

"Akibat ulahnya, tersangka diancam Pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) Huruf C Undang-Undang Nomor 08 Tahun 1999 tentang PK dan Pasal 53 Jo 23 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara," terangnya.

Sementara itu, menurut keterangan tersangka Pegi, ia menjalani bisnis mengoplos gas melon ke tabung gas 12 kg baru selama tiga bulan.

"Dalam seminggu mampu mengoplos sebanyak 40 tabung gas 12 kg dari tabung 3 kg.Tabung gas 3 kg itu saya beli dari warung-warung dan rencananya setelah isinya dipindahkan ke dalam tabung gas 12 kg akan diedarkan di kawasan Talang Jambe Palembang," ungkapnya.

Untuk mengisi penuh tabung gas 12 kilogram, dikatakan tersangka Pegi, dibutuhkan sekitar empat sampai lima tabung gas melon.

"Dari penjualan tabung gas 12 kg ke masyarakat, saya memperoleh keuntungan sekitar Rp 15 hingga 20 ribu," jelasnya.

Sementara informasi yang diterima Sripoku.com, saat ini tabung gas 3 Kg yang beredar juga sudah tidak sesuai lagi dengan aturannya. Banyak konsumen mengeluhkan kondisi gas 3 Kg yang hanya mampu bertahan 8 hingga 10 hari saja.

"Saya heran pakai gas 3 Kg sekarang ini, paling lama 10 hari habis, padahal saya masak tidak berubah, memang tekanannya penuh, tapi tekanan gasnya kuat sekali," ujar Ibu Desi warga Macan Lindungan.

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved