Petugas Narkoba Terpaksa Nyamar Jadi Tukang Pos

"Jadi anggota saya perintahkan untuk menyamar menjadi tukang pos dengan cara pura-pura ada kiriman karena susah menembusnya," jelasnya.

Petugas Narkoba Terpaksa Nyamar Jadi Tukang Pos
SRIPOKU.COM/SUGIH MULYONO
Pasutri, H Chairullah alias Erul (30) dan Herlina alias Lina (44), tersangka pengedar narkoba jenis sabu saat dihadirkan pada gelar tersangka dan barang bukti di Polda Sumsel, Kamis (17/3).

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Lantaran saat akan melakukan penangkapan terhadap pasangan suami istri (Pasutri), H Chairullah alias Erul (30) dan Herlina alias Lina (44) yang diketahui merupakan sebagai pengedar narkoba jenis sabu sempat kesulitan akibat pagar pintu gerbang rumahnya yang besar dan tinggi tak kunjung dibuka, membuat petugas akhirnya terus memutar otak.

Dengan berpura-pura menyamar sebagai seorang tukang pos, petugas dari Unit II Subdit II Ditres Narkoba Polda Sumsel akhirnya berhasil membuat penghuni rumah yang beralamat di Jalan Pangeran Antasari Lorong Bilal RT 05/1 Kelurahan 14 Ilir Kecamatan Ilir Timur (IT) I Palembang itu membuka pagar pintu gerbang.

Tak mau kehilangan kesempatan, petugas lainnya yang sudah bersiap-siap dengan bersembunyi pun langsung melakukan penggrebekan.

Dan tak sia-sia, dari penggrebekan tersebut berhasil ditemukan barang bukti berupa sabu sebanyak 16 paket yang terdiri dari dua paket besar dan 14 paket kecil yang ditemukan tergeletak di dalam ruang tengah rumah pasutri tersebut.

Menurut keterangan tersangka Erul yang diketahui merupakan sebagai pecatan polisi, istrinya tidak terlibat dalam bisnis barang haram tersebut dan hanya ia sediri yang menjalankannya.

"Istri saya tidak terlibat, hanya saya sendirian yang jalani bisnis ini. Tapi saya juga hanya disuruh orang untuk mengantarkan sabu tersebut dengan dijanjikan uang upahan sebesar Rp 400," jelasnya saat dihadirkan pada gelar tersangka dan barang bukti di Polda Sumsel, Kamis (17/3).

Dikatakan tersangka Erul yang merupakan pecatan polisi pada tahun 2013 itu, ia nekat menjalankan bisnis haram tersebut lantaran kepepet kebutuhan ekonomi.

"Saya dulunya anggota juga dan sudah dipecat. Saya terpaksa bisnis narkoba ini karena kebutuhan ekonomi," terangnya.

Sementara itu istri tersangka Erul, Lina, tidak banyak bicara saat ditanya beberapa pertanyaan oleh para wartawan dan ia hanya terus memimilih untuk tetap diam.

"Tolong jangan tanya-tanya, saya tidak bisa menjawab karena sedang tak enak badan," katanya singkat.

Kasubdit II Ditres Narkoba Polda Sumsel, AKBP Parlindungan Lubis mengatakan, kedua tersangka yang merupakan pasutri ini ditangkap di kediamannya, Rabu (16/3) sekitar pukul 10.00 dan kedua tersangka pasutri ini memang merupakan Target Operasi (TO) pihaknya yang sudah diintai sejak dua minggu lalu.

Bahkan, dalam penangkapan memang petugas sempat mengalami kesulitan.

"Kami Undercover By karena kesulitan untuk menangkapnya. Jadi anggota saya perintahkan untuk menyamar menjadi tukang pos dengan cara pura-pura ada kiriman karena susah menembusnya," jelasnya.

Meskipun begitu, dikatakan Lubis, awalnya pasutri tersebut masih tetap sempat menolak untuk membuka pintu gerbang kediamannya. Namun, saat anggota yang tengah menyamar terus mencoba dan menyocokkan dengan nama yang ada di paket akhirnya pintu dibuka.

"Saat pintu dibuka, langsung kami tangkap beserta barang bukti di rumahnya. Mereka termasuk pengedar dan akibat ulahnya, pasutri ini terancam Pasal 114 jo Pasal 112 jo Pasl 132 Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika," terangnya.

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help