SriwijayaPost/

Lahan Gambut Dijadikan Plasma Nutfah

Lahan gambut tidak pernah terbakar di lokasi konservasi plasma nutfah terletak di belahan Jalan Raya Sepucuk Km 10 Kelurahan Kedaton Kayuagung.

Lahan Gambut Dijadikan Plasma Nutfah
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Kadin Pertanian H Rosidi menunjukan lokasi lahan gambut rentan kebakaran yang sudah dikelola oleh Pemerintah Kabupaten OKI.

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG -- Lahan gambut di wilayah Bumi Bende Seguguk, setiap musim kemarau dipastikan akan mengeluarkan asap karena terbakar.

Namun, ada juga lahan gambut tidak pernah terbakar dilokasi konservasi plasma nutfah terletak di belahan Jalan Raya Sepucuk Km 10 Kelurahan Kedaton Kayuagung.

Lahan gambut berkisar 20 hektar yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ogan Komering Ilir (OKI) itu, hingga sekarang tidak menyumbangkan asap.

“Inilah kawasan yang terbukti tidak terbakar dalam 10 tahun terakhir,” kata Kadin Kehutanan HM Rosidi, Kamis (6/8/2015).

Rosidi mengaku, bangga akan kebun yang ditanami sejumlah tanaman khas rawa gambut itu seperti jelutung, ramin, dan meranti. Wilayah ini pada 2006 pernah terbakar, bersama ratusan ribu hektar gambut lainnya di daerah Sepucuk.

“Saat itu, dunia international menyoroti OKI karena kebakaran hebat. Tahun 2006 merupakan tahun kebakaran gambut yang cukup hebat setelah 1998,” kata Rosidi.

Setelah peristiwa tersebut, sebagian lahan gambut yang terbakar, yang kedalamannya mencapai 6 meter, menjadi perkebunan sawit, dan sebagian dibiarkan. Hanya kawasan ini dibuat menjadi kawasan plasma nutfah.

“Ternyata, sampai sekarang daerah ini yang tidak pernah terbakar,” ucap Rosidi.

Hal itu lanjut Rosidi,  membuktikan jika kebakaran lahan gambut benar-benar ulah manusia. Buktinya, kawasan yang dijaga dari aktivitas pembakaran tetap terjaga,.

Dengan bukti tersebut, kata Rosidi, kawasan gambut di OKI yang habis terbakar dan dirambah dapat direhabilitasi.

“Memang membutuhkan waktu yang panjang dan biaya besar. Tapi tetap ada peluang,” tutur Rosidi.

Penulis: Mat Bodok
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help