Selasa, 26 Mei 2015

Meraup Rupiah dari Budidaya Lidah Buaya

Sabtu, 11 Januari 2014 14:39

Meraup Rupiah dari Budidaya Lidah Buaya
www.boldsky.com
Lidah buaya (Aloe vera) 

SRIPOKU.COM, JAKARTA - Tahun 2002, Tanti Guntari (41) keluar dari perusahaan asing dan banting setir menjadi seorang wirausaha. Setelah menggeluti bisnis penyewaan tanaman, kini Tanti serius mengembangkan usaha olahan lidah buaya (”Aloe vera”) yang bahkan turut memberdayakan warga sekitar.

Awalnya, Tanti mengikuti pelatihan teknologi budidaya tepat guna yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Depok, Jawa Barat, serta Universitas Indonesia.

Dari sana, Tanti kemudian terinspirasi untuk memulai usaha pengolahan lidah buaya, khususnya jenis chinensis yang dapat dikonsumsi dan berpelepah besar.

Lidah buaya jenis itu disebutkan sangat mudah dibudidayakan. Dalam 3-4 bulan saja, satu tanaman lidah buaya mampu menghasilkan anakan yang jumlahnya banyak sehingga dapat menghasilkan lebih banyak indukan lidah buaya.

Produksi awal manisan lidah buaya dibuat dari 10 kilogram pelepah lidah buaya yang dibelinya di pasar kembang. Pelepah lidah buaya dicuci bersih di air mengalir kemudian direbus di air gula dan dimasukkan dalam plastik kecil panjang, dibuat es mambo. Es mambo itu kemudian dipasarkan di sekolah-sekolah dan ternyata laku keras dengan harga Rp 1.000 per buah.

Tanti memasarkan es mambo itu sambil terus bereksperimen membuat minuman lidah buaya atau nata aloe vera. Ia mencuci lidah buaya di air mengalir hingga bersih, kemudian lidah buaya dipasteurisasi untuk membunuh kuman dan mikroorganisme serta ditambahkan sari buah lychee sebagai perasa. Ia mendapati, lidah buaya harus diperlakukan sangat hati-hati. Ada titik kritis yang harus dijaga agar daging lidah buaya tidak berubah warna, atau bahkan menjadi cair.

Dia juga memilih untuk tidak menambahkan zat-zat kimia tambahan untuk produknya seperti pewarna, pemanis buatan, atau pengawet. Dengan pemrosesan yang benar, Tanti menyebutkan, minuman nata aloe vera yang diberi nama Olavera itu dapat bertahan hingga satu tahun.

Halaman123
Editor: Sudarwan
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas