Home »

Bisnis

» Makro

Herry Timadius Belajar Bijaksana Selesaikan Masalah

Ya, awalnya dari rasa tanggungjawab terhadap keluarga. Lalu turut bahagia apabila bisa membawa orang jalan

Herry Timadius Belajar Bijaksana Selesaikan Masalah
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Herry Timadius 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sukses turut mengembangkan bisnis usaha keluarga Timadius, diakui Herry Timadius tidak terlepas dari kemauan untuk bekerja keras dan mau belajar. Bahkan hingga kini General Manager Carmeta Tour and Travel Service mengaku masih terus belajar untuk bisa bijaksana setiap menyelesaikan masalah.

"Ya, awalnya dari rasa tanggungjawab terhadap keluarga. Lalu turut bahagia apabila bisa membawa orang jalan untuk bisa senang-senang. Kebetulan memang, aku jugo seneng jalan. Jadi klop," Herry Timadius di sela-sela perayaan HUT ke-10 Perhimpunan Keluarga Besar Hakka Sumsel di Selebrity Entertainment Centre Jl Petanang Palembang, Jumat (27/9/2013) malam.

Bungsu dari empat bersaudara buah kasih pasangan Judi Timadius dan Maria Kurniawan dirinya mengaku tidak hanya dirinya saja terlibat di dalam bisnis keluarga ini.

"Selain aku, ada cici aku dan koko. Di Carmeta Tour and Travel Service, aku General Manager sejak 2006 hingga sekarang," aku pria kelahiran Palembang 1 Agustus 1975.

Herry pun mengaku tak ingin menjadi salah seorang diantara kebanyakan anak-anak yang enggan mengurus bisnis keluarga, sementara malah senang berfoya-foya.

"Kita dak setuju hidup foya-foya. Di atas gunung ada gunung. Di bawah lembah ada yang lebih dalam. Jangan kita nggak bersyukur. Ingat ke bawah tahu terima kasih Tuhan kita masih dikasih rumah, makan. Bukan merendahkan orang. Syukuri segala hal baik itu baik maupun buruk dalam hidup ini. Ataupun yang tampaknya buruk. Biar tampak buruk harus disyukuri," ujar alumni SMA Xaverius 1 Palembang.

Ia mengaku sejak kecil belajar tentang bisnis yang dijalankan keluarga dengan melihat orangtua mengurus perusahaan. 

"Wong tuo ngajarkan anak, karena ada keindahan di balik itu yang disiapkan oleh yang Maha Kuasa untuk kita. Papa itu wongnyo sabar, sering ngalah. Katakanlah ada anak buah nakal. Biaso dipanggilnyo, diingetin. Kalu bener-bener mau berubah diberi kesempatan. Berbeda denan biasonyo bos-bos lain kalau ada yang kayak itu langsung dipecat. Ini kalau orang itu betul-betul nyesal tetap ikut dipekerjakan. Yang tadinya nakal, jadi tidak nakal. Jadi banyak yang betah.
Memang kalau bertaubat itu susah. Ada yang berubah nian. Ada yang nakal, tetap nakal. Berkali-Kesabaran dan percaya akan kesempatan. Aku jugo banyak melihat figur engkong (kakek) almarhum Cho suk Ngian yang peduli dengan orang gila, orang miskin dan binatang seperti kucing. Makanan sisa harus dikumpulkan ke piring kaleng. Hingga ramai kucing liar kumpul. Makanya aku sampai sekarang masih terus belajar bijaksana dalam setiap menyelesaikan masalah," katanya.

Dari figur pendahulunya ini, Herry memetik pelajaran untuk bersikap sabar, baik. Percaya kalau orang jika diberi kesempatan akan berubah.

"Kita lihat juga selain sabar, tidak marah. Diplomasinya juga bagus. Dengan usaha kecil ini saja, dia diundang mantan Presiden China Hu jin dao, Presiden SBY, Soeharto, Megawati meresmikan di Muntok.
Pernah diundang Wapres Taiwan.
Untuk ukuran orang sederhana bukan kaya raya adalah kepuasan tersendiri dan bangga diundang kepala negara. Apalagi seperti Presiden China.
Orangtua terlibat dalam Ketum Perhimpunan Keluarga Besar Hakka Sumsel. Ketua Umum Yayasan Sosial Sukamaju yang membawahi Panti Jompo gratis, dan rumah penitipan abu di Sukamaju. Beliau juga Ketua Persatuan Gereja Tionghoa Indonesia Wilayah Sumsel. Aku sendiri sebagai Sekretaris Perhimpinan Keluarga Besar Hakka Sumsel. Pengurus rumah penitipan abu di Sukamaju.
Jangan sombong. Berdiplomasi yang baik dan sabar. Dan selalu menanggapi hal-hal secara positif.
Misal ada kawan ngomong apo. Jangan diambil negatifnya saja. Dengan kegiatan sosial jangan takut berbuat sosial, penghasilan berkurang. Dengan kita berbuat baik, tentu akan datang kebaikan lain menghampiri kita apabila perbuatan kita disertai dengan ketulus. Yayasan Sosial ini tidak memandang perbedaan. Sebagai contoh penitipan rumah abu secara fisik terbagi 4. Ada blok umat Budha, Kristen dan Katolik, Islam," beber Herry.

Halaman
12
Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Sudarwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help