Sabtu, 1 Agustus 2015

Merampas Harta Koruptor

Rabu, 25 September 2013 11:35

Merampas Harta Koruptor
ist
Merampas Harta Koruptor

Tak bisa dipungkiri, korupsi sampai kapanpun menjadi problem terbesar yang dihadapi Indonesia. Korupsi sudah membudaya, dilakoni di segala lini, sendi, dan aspek kehidupan negeri ini. Saking seringnya korupsi diberitakan dan dijalankan sehari-hari, lamat-lamat dianggap menjadi pekerjaan yang lumrah bagi siapapun, terutama bagi pemilik modal, penguasa dan pemegang jabatan.

Tiga pondasi demokrasi kita, dari pemerintah, wakil rakyat, penegak hukum tak henti-hentinya terjerat hukum akibat laku kotor itu.

Tiap tahunnya, pelaporan dan kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak berdiri tahun 2003, terus meninggi trafiknya. Labirin korupsi menjalar deras ke segala nalar dan urat saraf bangsa ini, muda hingga tua, pria maupun wanita. Ini berarti godaan mengorupsi sudah menggurita dan mengakar kuat.

Di sisi lain, upaya penjeraan koruptor seringkali terbentur dengan putusan hukum yang sangat ringan. Lemahnya penegakan hukum, semaraknya gaya hidup hedonis, tidak adanya political will dan keteladanan dari pejabat-pejabat publik, mendedahkan preseden buruk mengapa korupsi makin lestari dan merajalela.

Tragisnya, korupsi berdampak sangat besar, mampu merobohkan pondasi bangsa-negara dari segala aspek; ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya. Tinggal bagaimana pelaksanaan hukum positif di Indonesia mampu memberi efek jera bagi koruptor.

Salah satu solusinya adalah dengan melakukan perampasan aset koruptor. Namun perampasan aset dihadapkan pada hambatan utama berupa tidak adanya regulasi yang memadai tentang perampasan harta benda tanpa melalui proses peradilan pidana (non conviction based).

Oleh karena itu diperlukan adanya pembaharuan hukum yang memungkinkan diakomodasinya pelaksanaan non conviction base stolen asset recovery, yang mencakup tentang pembekuan (freezing), perampasan (seizure), dan penyitaan (confiscation) harta benda tanpa perlu dibuktikan keterlibatan ataupun kesalahan pelaku dalam suatu proses pidana.

Halaman1234
Editor: Sudarwan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas