Minggu, 21 Desember 2014
Sriwijaya Post

Bos PT Orchid Masuk Rumah Sakit

Kamis, 25 Juli 2013 23:22 WIB

Bos PT Orchid Masuk Rumah Sakit
SRIPOKU.COM/ZAINAL PILIANG
Hartono Gunawan, Direktur Utama Pembangunan Orchid Palembang pingsan di saat mengikuti sidang dengan agenda pembacaan putusan sela, Rabu (24/7/2013). Saat ini ia menjalani perawatan di RS Charitas Palembang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan pemberian giro kosong yang melibatkan Direktur Utama Pembangunan Apartemen Orchid, Hartono Gunawan, Kamis (25/7) di Pengadilan Negeri Palembang ditunda. Terdakwa dalam kondisi sakit setelah sehari sebelumnya pingsan saat menjalani persidangan.

Majelis Hakim yang diketuai Ali Makki SH, menerima informasi tersebut dari kuasa hukum terdakwa Rusmin Wijaya dan Bregas Andariksa. Akhirnya hakim memutuskan tidak melanjutkan sidang karena terdakwa pertama (Hartono) sakit dan terdakwa kedua (Fende Petrus Yong Fendi) juga tidak hadir.

Majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk memeriksakan dan memulihkan kesehatan hingga Selasa (30/7). Hakim juga mengingatkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dahasril mengecek ke rumah sakit karena memiliki kewajiban menghadirkan terdakwa ke persidangan berikutnya.

"Jangan sebatas diperiksa dokter umum tapi ke dokter spesialis, agar benar-benar diketahui penyebab dan kebenarannya," ujarnya.

Sementara, Dahasril selaku JPU mengatakan, Hartono saat ini masih dalam pengawasan dokter setelah pingsan saat sidang pembacaan putusan sela, Rabu (24/7). "Hasil diagnosa dokter sementara ini, pingsan disebabkan stres atau depresi sehingga detak jantung tidak stabil. Kondisi ini diperparah karena terdakwa tidak makan siang," ujarnya.

Sementara terkait dengan rujukan ke RS Charitas, hal tersebut kata Dahasril berdasarkan rekomendasi tim dokter di Rumah Tahanan Kelas I Palembang. "Setelah dibawa ke rumah tahanan kembali pada pukul 19.00 WIB, tim dokter memutuskan untuk dikirim lagi ke RS
Charitas karena khawatir," ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, JPU telah mengajukan perpanjangan masa penahanan hingga 30 September 2013.

Sementara kuasa hukum penggugat Ahmad Marhein mempertanyakan perihal rujukan tim dokter rumah tahanan ke RS Charitas mengingat bukan milik negara. "Mengapa tidak dirujuk ke RS Polri sehingga yang menetapkan terdakwa benar-benar sakit merupakan dokter yang kompeten. Kami mengingatkan, agar jaksa melakukan pengawasan ekstra karena bisa jadi ini menjadi upaya terdakwa untuk melarikan diri ke luar negeri," katanya.

Editor: Soegeng Haryadi

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas