• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 20 April 2014
Sriwijaya Post

Tiga SD di Banding Agung OKU Selatan Terancam Ditutup

Rabu, 19 Juni 2013 16:51 WIB

SRIPOKU.COM, MUARADUA - Dengan alasan minimnya siswa SD yang mendaftar pada Penerimaan Siswa Baru (PSB) tahun ajaran 2013/2014, tiga SD yang ada di Kecamatan Banding Agung OKU Selatan terancam tak bisa dibuka pada tahun ajaran ke depan. Alasanya, saat waktu PSB sudah hampir ditutup, jumlah siswa yang ada dengan siswa yang mendaftar di tiga SD itu belum sampai angka 90 pendaftar.

Kepala Dinas OKU Selatan, Bahader Hanan, membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, berdasarkan Perda yang sudah dibuat Pemkab OKU Selatan, satu sekolah wajib memiliki siswa sebanyak 90 dan paling banyak 240. Jika tak sampai angka itu, maka suatu sekolah kemungkinan besar tak bisa dibuka.

"Tiga SD yang hingga saat ini jumlah siswanya tak sampai angka 90 adalah SD 3 Banding Agung, SD 9 Banding Agung, dan SD 5 Banding Agung. Jika nanti hingga PSB diututup jumlah total siswa tak sampai angka 90 pendaftar, ketiganya akan dievaluasi," kata Bahader, Rabu (19/6/2013).

Dijelaskan Bahader, untuk SD 3 Banding Agung, jumlah siswa sebanyak 45 siswa, sementara untuk SD 9 Banding Agung, jumlah siswanya 69. Sedangkan untuk SD 5 Banding Agung, jumlah siswanya 72. Jika jumlah itu tidak sampai angka 90 hingga PSB ditutup, para pendaftar dan siswa yang sudah ada akan dipindah ke SD yang ada di sekitar SD yang sudah mereka daftar.

Bahader melanjutkan, SD yang dijadikan tempat menampung mereka yang sudah akan dipindahkan tidak sembarang, melainkan ada ketentuannya. Salah satunya adalah masalah lokasi. SD yang akan dijadikan tempat penampung pendaftar diharuskan tidak terlalu jauh dari ketiga SD tempat dimana pertama kali mereka mendaftar. Adapun jarak maksimalnya adalah satu kilometer.

"Untuk tenaga pengajar dari ketiga SD, mereka akan ditugaskan di sekolah yang dirasa kekurangan tenaga pengajar. Kan masih ada beberapa sekolah yang kurang tenaga pengajar," kata pria berkaca mata ini.

Diungkapkan Bahader, mengapa jumlah siswa di ketiga SD itu sangat sedikit bukan berarti masalah kualitas. Menurut Bahader, jumlah siswa tingkat SD saat ini sudah sedikit ketimbang beberapa waktu lalu, atau sebelum program Keluarga Berencana (KB) digembar-gemborkan pemerintah pusat. Saat itu, pertumbuhan penduduk begitu pesat sehingga gedung-gedung sekolah juga dibangun untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk.

"Namun, sejak program KB berjalan, pertumbuhan penduduk sedikit berkurang. Akibatnya, bangunan sekolah, termasuk SD, banyak yang tak terpakai karena tak seimbang dengan pertumbuhan siswa yang mulai berkurang," kata Bahader.

Hanya saja, atas beberapa pertimbangan, peraturan ini tidak siberlakukan pada beberapa sekolah. Alasannya, jika sekolah yang dimiliki satu kecamatan sangat terbatas, maka sekolah yang siswanya di bawah angka 90 diperbolehkan untuk terus menggelar kegiatan belajar mengajar.

"Pertimbangannya, kami takut siswa tak bisa belajar karena tak ada sekolah yang dekat. Sebab itu, beberapa sekolah tidak diberlakukan peraturan ini," pungkas Bahader.

Penulis: Refli Permana
Editor: Soegeng Haryadi
Sumber:
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
335222 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas