Nekan Tulang Dadanya yang Pas

Sebanyak 30-an peserta dari komunitas pelabuhan laut Bombaru, komunitas bandar udara, PMI, BPBD, RSMH mengikuti penyuluhan

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sebanyak 30-an peserta dari komunitas pelabuhan laut Bombaru, komunitas bandar udara, PMI, BPBD, RSMH mengikuti penyuluhan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk pekerja di wilayah KKP Kelas II Palembang di Asrama Haji Palembang, Rabu (19/6/2013).

"Menekan tulang dadanya yang pas. Jangan sampai patah. Kita kan bisa lihat kalau di alat deteksi jantung itu, kalau garisnya masih lurus. Nah kalau sudah ada bengkok-bengkoknya sudah bergerak," kata Subhan sarjana keperawatan dari RSMH mecontohkan praktek dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan pada penyuluhan P3K dan bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk pekerja di wilayah KKP Kelas II Palembang di Asrama Haji Palembang, Rabu (19/6/2013).

Dijelaskan adanya 5 siklus melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan. Subhan pun mempraktekkan bagaimana cara menekan dada (memompa jantung) seorang korban dan memberikan napas buatan.

"Selain Pak Subhan, ada juga Pak Yudi dari PMI memberi materi evakuasi dan penggunaan APD (alat pelindung diri)," kata Kadinkes dr Fenty Aprina MKes didampingi Kepala KKP Kelas II PLG Marjunet SKm MKes.

Kepada Sripoku.com, Kepala KKP Kelas II PLG Marjunet SKm MKes menejelaskan tujuan digelarnya pelatihan P3K ini untuk membekali setiap orang komunitas pelabuhan harus bisa P3K dan memberikan bantuan hidup dasar.

"Penumpang pesawat jatuh jantung, sebelum petugas kesehatan datang. Karena singkat sekali waktunya. Seperti Mr Bean jatuh saat berdiri di halte bus. Seluruh sekuriti bandara dan pelabuhan laut dan bandar udara kan dilatih. Di pintu pesawat dan kapal," papar Marjunet.

Ia juga menjelaskan terutama pada pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji ada kewenangan dan tanggungjawab masing-masing petugas menghadapi apabila terjadi kecelakaan.

"Kalau menghadapi seperti itu calon dan jemaah haji. Kalau dari asrama haji boarding ke pesawat tanggungjawab tim kesehatan KKP. Misalnya ada calon jemaah haji mau jatuh. Namun begitu duduk di pesawat, ada serahterima dari KKP ke TKHI (tenaga kesehatan haji indonesia) kloter. Udah tanggungjawab mereka. Kalau ada yang jatuh nggak bisa berangkat diserahkan ke kami. Termasuk menunggu keluarga. Kalau sakit dari luar negeri tidak boleh langsung ke keluarga. Kemungkinan menderita penyakit yang harus diwaspadai. Terjadi satu pesawat penumpang dan dan kru akan dikarantina. Petugas pun dibatasi. Namanya pandemi," jelas Marjunet.

Meski demikian, kata Marjunet, untuk prosedur tanggungjawab KKP, tidak menutup kemungkinan ada dokter kloter di situ yang membantu.

"Kalau ada calon yang menggunakan kursi roda, kalau jemaah haji Usila itu ditandai kode perlu ada pendamping. Kalau ada keluarga, keluarganya. Tapi kalau tidak, tentu itu tugas pembimbing jemaah uzur dari Kemenag. Haji 2013 belum tahu berapa jumlahnya. Data dari kabupaten/kota pemeriksaan tahap I belum masuk ke kita," ujar Marjunet.

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved