Harga BBM Naik
Pertamina Fokus Amankan Suplai BBM
Pertamina sudah menambah stok distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga mencapai 30 persen yang telah dilakukan sejak April lalu.
Penulis: Dewi Handayani | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pertamina mengakui sudah menambah stok distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga mencapai 30 persen. Kondisi ini bahkan sudah ditambah sejak April lalu.
Hal tersebut diungkapkan Pertamina Marketing Operation Region II, Roberth MV Dumatubun kepada Sripoku.com di ruang kerjanya, Selasa (18/6/2013). Dikatakan sejak April, Pertamina sudah diminta pemerintah untuk mengamankan suplai BBM karena wacana kenaikannya diberlakukan 1 Mei lalu.
"Makanya per April Pertamina sebenarnya sudah menyalurkan hampir 30 persen untuk ekstra suplai yang diperuntukkan untuk kebutuhan stok," kata Roberth.
Ia menerangakan, saat ini konsumsi premium di Sumsel mencapai 1.800 hingga 2.000 kiloliter. Namun kenyataanya dialokasikan 2.000 hingga 2.500 kiloliter. Kenaikan bahkan terjadi hingga 120 persen. Begitupun untuk solar 1.500 sampai 1.800 kiloliter untuk kondisi normal, sekarang 1.800 sampai 2.000 kl.
"Makanya untuk urusan kuota sudah kita tambah, karena memang itu sudah menjadi fokus pertamina," kata dia.
Pengamanan suplai BBM ini kata dia, merupakan langkah awal yang dilakukan Pertamina. Pihaknya juga telah meminta para pengelola SPBU agar berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk pengamanan di lingkungan SPBU.
Khusus antrean, kata Roberth, pihaknya juga telah menduga sebelumnya. Makannya secara kooperatif, pihak SPBU diminta berkoordinasi dengan kepolisian agar kondisinya tetap aman, juga dalam rangka mengantisipasi aksi demo massa menolak kenaikan BBM.
"Kalau ada lonjakan sudah pasti ada, tapi kan sudah dinaikkan sejak April lalu, makanya kami nilai saat ini konsumsinya sudah terpenuhi semuanya," katanya.
Untuk beberapa SPBU yang dilaporkan tutup atau kekurangan stok, lanjut Roberth, pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat. Yang jelas, per-SPBU sudah ditentukan konsumsinya perhari. Kalaupun mereka kehabisan, menurut dia, wajar karena permintaannya memang tinggi hingga terjadi antrian. Pertamina tetap melakukan pengaturan untuk suplai dan terus melakukan pengawalan di beberapa SPBU.
Kondisi ini, menurutnya, justru bukan dipicu karena panic buying, namun karena lebih kepada memanfaatkan situasi membeli harga lebih murah, sebelum kenaikan terjadi. "Ini bukan panic buying, tapi karena warga ingin beli lebih murah saja," kata Roberth.
Kondisi panic buying dipicu beberapa hal, diantarannya kekurangan pasokan atau suplai dan kondisi keamanan di satu lokasi. Namun justru, dari antrean beberapa hari terakhir terjadi kenaikan konsumsi Pertamax. Besaran kenaikan bahkan tembus hingga 30 persen.
Meski enggan meyebut data pasti, yang jelas sudah timbul kesadaran masyarakat menggunakan pertamax. Bisa juga karena masyarakat enggan antre lama, lalu beralih ke Pertamax.