A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Warga Sukacita Sambut Terbentuknya Muratara - Sriwijaya Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Sriwijaya Post

Warga Sukacita Sambut Terbentuknya Muratara

Rabu, 5 Juni 2013 07:28 WIB
Warga Sukacita Sambut Terbentuknya Muratara
ISTIMEWA
Ilustrasi
SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Disetujuinya DOB Muratara dalam Raker Komisi II DPR-RI tersebut disambut sukacita masyarakat Muratara. Begitu mendapat informasi bahwa DOB Muratara disetujui, para pemuka dan tokoh masyarakat serta warga yang berasal dari tujuh kecamatan diwilayah utara Musirawas tersebut menggelar doa bersama di Mesjid Taqwa Muararupit.

“Kita menyambut gembira dan sangat bersyukur kepada Allah SWT, bahwa dalam rapat di DPR hari ini (kemarin-red), Muratara akhirnya disetujui jadi DOB. Kami kemarin menggelar doa bersama yang dihadiri sekitar 300-an masyarakat dari seluruh kecamatan di Muratara ini. Bahkan salah seorang sesepuh kami, yaitu Pak Karim AR, membayar nazar dengan menyembelih seekor kerbau, atas disetujuinya Muratara ini,” kata Arifin Daud, tokoh pemuda Muararupit saat dihubungi Sripoku.com.

Senada dikatakan salah seorang tokoh masyarakat Muratara, HM Syarif Hidayat. Disetujuinya DOB Muratara dalam rapat di DPR-RI tersebut merupakan hal yang patut disyukuri. Karena, perjuangan panjang masyarakat Muratara untuk memekarkan wilayahnya akhirnya terwujud. Sehingga kedepan, Muratara dapat mengatur rumah tangganya sendiri dan potensi-potensi sumber daya alam (SDA) yang melimpah dapat digali lebih maksimal untuk kemakmuran masyarakat Muratara.

Menurut mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Musirawas ini, disetujuinya DOB Muratara bukanlah hadiah. Tapi itu merupakan buah dari perjuangan panjang masyarakat yang sudah sejak lama menginginkan Muratara menjadi kabupaten sendiri.

“Sudah sejak tahun 1952, dilanjutkan sampai tahun 1962, masyarakat Muratara yang tadinya bernama Keresidenan Rawas ini ingin menjadi kabupaten sendiri, terpisah dari Musirawas. Saat itu ada yang namanya Panitia Pemekaran, atau semacam presidium saat ini. Jadi memang keinginan dan perjuangan masyarakat untuk mekar ini sudah tertanam sejak dulu” kata HM Syarif Hidayat.

Dikatakan, keinginan masyarakat Muratara untuk memisahkan diri dari Kabupaten Musirawas antara lain karena jarak rentang wilayah yang terlalu luas. Sehingga masyarakat Muratara sangat jauh jika ingin berurusan ke Pemda. Namun saat itu, banyak sekali kendala-kendala yang harus dihadapi untuk memekarkan Muratara, sehingga masyarakat yang berjuang untuk pemekaran hanya bisa memendam keinginannya dalam-dalam.

Baru setelah era reformasi bergulir, keinginan laten masyarakat Muratara untuk memisahkan diri dari Kabupaten Musirawas kembali bergolak. Upaya-upaya pun dilakukan, seperti menembus birokrasi, meski beberapa kali gagal, sehingga aksi-aksi turun kejalan pun dilakukan. Sejarah mencatat, masyarakat Muratara telah beberapa kali melakukan aksi turun kejalan, menuntut pemekaran.

Aksi yang tergolong cukup besar antara lain terjadi pada tahun 2007 lalu. Puluhan ribu masyarakat Muratara berduyun-duyun dengan menggunakan ratusan kendaraan menggelar demo ke DPRD dan Pemkab Musirawas, bertepatan dengan paripurna perayaan HUT Kabupaten Musirawas.

Aksi itu berakhir bentrok dan rusuh. Saat itu, ribuan massa yang tidak puas karena merasa keinginan mereka seperti membentur baja dan tidak diakomodir, melempari dan merusak kaca-kaca gedung DPRD Musirawas. Beberapa warga ada yang terluka dan dibawa ke rumah sakit.

Tak puas hanya disitu, ribuan massa kemudian pulang dari gedung dewan, dan menutup akses Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) mulai dari perbatasan di Desa Lake Rantau Jaya, seputar SPBU Bukit Beton. Massa bertahan hingga larut malam, hingga menyebabkan kemacetan panjang mencapai puluhan kilometer. Namun aksi itu akhirnya berhasil dibubarkan, setelah masyarakat mendapatkan janji bahwa, pemekaran Muratara akan diproses.

Namun setelah menunggu sekian lama pemekaran tak juga terwujud, aksi-aksi turun ke jalan kembali dilakukan. Sejak aksi penutupan Jalinsum pada 2007 itu, masyarakat beberapa kali melakukan aksi serupa dalam skala tidak terlalu besar, terutama di Kecamatan Rupit. Puncaknya, Senin 29 April 2013, massa kembali menggelar aksi di Simpang Empat Muararupit, dengan cara mendirikan tenda dan memblokir Jalinsum.

Aksi ini berakhir rusuh dan meninggalkan catatan kelam serta duka mendalam bagi masyarakat Muratara. Empat orang warga tewas tertembak. Belasan warga lainnya mengalami cedera akibat terkena tembakan aparat yang membubarkan massa, sekitar pukul 21.30 malam. 

Peristiwa ini menjadi perhatian serius hingga ke pemerintah pusat, sehingga akhirnya memercepat proses pemekaran Muratara. Hasilnya, kemarin Raker Komisi II DPR-RI atau rapat mini fraksi menyetujui pembentukan DOB Muratara.
Penulis: Ahmad Fahrozi
Editor: Soegeng Haryadi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas