Selasa, 21 April 2015

Kesehatan Perokok Pasif Lebih Buruk dari Perokok Aktif

Jumat, 31 Mei 2013 10:39

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membuktikan secara ilmiah bahwa ada hubungan antara merokok pasif, atau asap tembakau lingkungan (ETS), dan sejumlah penyakit, kanker paru-paru pada khususnya.

Menurut situs resmi WHO Satu jam sehari di sebuah ruangan dengan perokok adalah hampir seratus kali lebih mungkin untuk menyebabkan kanker paru-paru di non-perokok. Bukti konklusif pertama pada bahaya merokok pasif berasal dari penelitian Takeshi Hirayama di tahun 1981 tentang kanker paru-paru.

Saat itu Takeshi meneliti wanita Jepang bukan perokok namun mengidap kanker paru-paru akibat menikah dengan pria perokok. Penelitian kemudian diperluas ke daerah lain dan bukti terus bertambah, bahaya dari campuran kompleks kimia yang dihasilkan dari pembakaran tembakau.

Studi kasus-kontrol pada efek ETS pada risiko kanker paru-paru pada populasi Eropa, telah dilakukan selama tujuh tahun terakhir oleh 12 pusat penelitian di 7 negara Eropa di bawah kepemimpinan WHO cabang penelitian kanker Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Risiko kanker paru-paru pada perokok pasif yang terpapar meningkat antara 20 dan 30 persen, dan memicu risiko penyakit jantung adalah 23 persen.

Sama halnya yang dilansir betterhealth, Jumat (31/5/2013) perokok pasif berarti menghirup asap tembakau orang lain. Orang-orang yang tidak pernah merokok yang tinggal dengan orang-orang yang merokok berada pada peningkatan risiko berbagai penyakit yang berhubungan dengan tembakau dan risiko kesehatan lainnya.

Merokok pasif meningkatkan risiko penyakit jantung. Ada bukti yang konsisten bahwa orang yang tidak merokok satu atap dengan prokok aktif memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner.

Perokok pasif membuat darah lebih 'lengket' dan mungkin membeku, sehingga menyebabkan peningkatan risiko berbagai kondisi kesehatan, termasuk serangan jantung dan stroke. Ada bukti bahwa merokok pasif dapat menyebabkan kadar vitamin antioksidan dalam darah untuk mengurangi.

Halaman12
Editor: Bejoroy
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas