"Burung" Dipotong, Si Kembar Saldo-Saldi Pun Menangis

"Ponakan aku Febri dak jadi disunat. Lari kenakutan," kata seorang pria yang mencoba menstart motor Yamaha RX-King warna hitam.

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pasangan Sunarno (41) dan Segerheri (40) mengaku lega bisa menyunatkan putra kembarnya sekaligus Saldo Dwi Anugrah dan Saldi Dwi Anugrah (7).

Saldo dan Saldi merupakan anak kembar dua diantara 160 anak peserta yang mengikuti sunatan massal di Aula UPTD BP3NFI Sumsel Jl Naskah 2 Km 7,  Sabtu (27/4/2013).

Kedua bocah yang telah bersekolah Kelas 2 SDN 140 ini masih terlihat menangis dan mengucurkan air mata ketika kedua orangtuanya memasangkan kain sarung.

Saldo Dwi Anugrah dan Saldi Dwi Anugrah (7), warga Jl Cempaka RT 9 Purwodadi Kecamatan Sukarami Alang-Alang Lebar.

"Saldo dan Saldi ini putra kembar. Anaknya sendiri yang sudah pingin minta disunat. Jadi kita turuti aja," kata Sunarno (41) yang keseharaiannya sebagai buruh bangunan.

Sunarno (41) dan Segerheri (40) sebetulnya memiliki tiga anak. Anaknya yang pertama kelas 3 SMPN 11, Tirta Novantino (14).

"Semuanya laki-laki. Nah ini jatuhnya anak kedua, kembar. Jadi sekarang lega sudah disunat semua. Sebenarnya belum siap. Anaknya mau. Namanya anak-anak ya... nangis katanya sakit, disuntik. Insya Allah mau bagikan bancaan (memberikan makanan kepada tetangga sebagai syukuran sunat). Bagiin nasi besok," kata Eri.

Dr Ferri yang menangani sunatan massal ini mengatakan target awal 160 anak. Namun melihat animonya tinggi sehingga menyiapkan obat-obatan lebih.

"Tenaga medis 10 orang dari PMI. Untuk kelamin ini semakin kecil umur semakin baik. Sebab alat kelaminnya masih kecil kalau infeksi juga kecil kemungkinan," ujar Dr Ferri.

Sementara untuk yang dewasa cenderung infeksinya lama. Kalau usia 2,5 hingga 3 tahun, 3-4 hari sudah sembuh tergantung cara ibu merawat.

"Dalam setahun ini sudah 10 kali PMI menggelar sunatan massal gratis," tambah Ferri.

Syahrial Effendi, Kepala UPTD BP3NFI (Balai Pengembangan Pelatihan Pendidikan Non Formal Informal) Sumsel mengatakan pihaknya sifatnya memfasilitasi kegiatan ini.

"Ini sebetulnya kegiatan PMI. Kita senang bisa berbuat menolong. Kalau tidak kita dukung, berat melaksanakan ini. Kita lembaga negara hadir di kecamatan, kelurahan sukarami. Wujud kepedulian, perhatian. Rupanya banyak. Kami anggarkan 105, nambah jadi 158, lalu jadi 160. Ini lagi mendata lagi bisa bertambah. Takutnya obat-obatannya pas-pasan.
Kita kasih uang saku 50 ribu, kain sarung, transport disewakan mobil setiap kelurahan. Ada 7 Keluruhan se Kecamatan Sukarami kita undang semua. Kami memfasilitasi tempat baru kali ini. Malah ada yang minta dua kali. Ada kelurahan yang ngirim tidak terlalu banyak kali ini," kata Syahrial Effendi, Kepala UPTD BP3NFI (Balai Pengembangan Pelatihan Pendidikan Non Formal Informal) Sumsel.

Tidak sedikit pula ada bocah yang ketakutan berlari saat hendak disunat hingga dan minta pulang.

"Ponakan aku Febri dak jadi disunat. Lari kenakutan," kata seorang pria yang mencoba menstart motor Yamaha RX-King warna hitam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved