• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Sebagian Depot Air Minum di Muarenim Belum Bersertifikasi

Senin, 15 April 2013 20:51 WIB
Sebagian Depot Air Minum di Muarenim Belum Bersertifikasi
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Sekitar 40 pengusaha Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) Kabupaten Muaraenim, mengikuti pelatihan Hygiene Sanitasi Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) di Hotel Rene Muaraenim, Senin (15/4/2013).
SRIPOKU.COM, MUARAENIM - Dari 84 Depot Air Minum Isi Ulang yang terdata oleh Dinkes Kabupaten Muaraenim, ternyata baru 47 unit yang disertifikasi. Selebihnya, keamanan dan kualitas airnya masih diragukan.

"Ini yang terdata saja. Namun jumlahnya bisa lebih dari 84 buah tersebut. Terutama untuk yang baru buka," ujar Kadinkes melalui Kabid Pengedalian Masalah Kesehatan Dinkes Kabupaten Muaraenim Alius, disela-sela kegiatan Pelatihan Hygiene Sanitasi Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) di Hotel Rene Muaraenim, Senin (15/4/2013).

"Kita berharap dengan pelatihan ini para pemilik depot bisa bertanggungjawab atas higenitas air yang dijualnya," ujarnya.

Menurut Alius, tujuan dari pelatihan ini, supaya para pemilik depot air minum isi ulang, bisa memenuhi dan mengetahui syarat-syarat dalam berbisnis air minum isi ulang sesuai dengan Permenkes Nomor 492 tahun 2010 tentang air minum.

Dalam Permenkes tersebut, seluruh depot air isi ulang harus memeriksakan kualitas airnya di laboratorium seperti uji kualitas air sebelum dan sesudah di proses, uji tempat lokasi usaha dan lain-lain.

Jika telah lulus seluruhnya barulah bisa diberikan sertifikasi. Untuk uji laboratorium dilakukan laboratorium dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Sumsel.

"Untuk air PAM tidak boleh untuk air isi ulang karena mengandung bahan-bahan kimia yang bisa merusak peralatan saringan seperti ultraviolet, ozon dan lain-lain," tukasnya.

Saat ini, kata Alius, memang ada kendala dalam uji laboratorium, sebab sebagian besar para pemilik depot air minum, mengeluhkan mahalnya biaya laboratorium yakni sekitar Rp 900 ribuan. Padahal pemeriksaan sampel air tersebut minimal enam bulan sekali dan maksimal satu tahun sekali yang dilakukan secara kontinyu. Sebab syarat utamanya adalah air harus nol mikrobiologi, sebab itu untuk air minum.

"Tidak masalah air tanah, asal syaratnya terpenuhi. Ini harus higenis sebab menyangkut nyawa manusia," tegasnya.
Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Soegeng Haryadi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
277381 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas