• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Awas Pempek Berformalin!

Jumat, 22 Februari 2013 20:03 WIB
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) khususnya Kota Palembang yang mengandrungi kuliner pempek perlu waspada. Masih banyak ditemukan makanan mengandung pewarna dan pengawet berbahaya seperti, boraks, formalin dan bahan pewarna kimiawi.

Kepala Badan Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang, Indriaty Tubagus usai audiensi dengan Gubernur Sumsel h Alex Noerdin di Griya Agung, Jumat (22/2) mengatakan, pemerintah sudah melarang penggunaan Rhodamine B, pewarna, formalin, dan boraks dalam makanan dan minuman.

Tetapi, pihaknya masih saja menemukan produsen yang nakal memakai bahan-bahan berbahaya tersebut pada produk makanan dan minumannya.

"Mereka beralasan hal itu dilakukan untuk menekan biaya produksi dengan keuntungan lebih besar," ujar Indriaty.

Dia mengaku, hampir setiap produk makanan dan minuman khas tradisional yang dijual di pasaran mengandung bahan-bahan kimia berbahaya. Diantaranya, pempek, kue, dan jajanan anak-anak.

"Produk yang mengandung bahan berbahaya ini biasanya produk rumah tangga yang tidak terdaftar di BPOM," paparnya seraya menambahkan bahwa pihaknya masih menemukan makanan khas daerah mengandung formalin dan boraks, meskipun tidak banyak.

"Ada produk pempek dan kue yang kami temukan mengandung formalin dan boraks," tegasnya sembari menyebutkan para produsen ini tidak peduli yang penting mereka untung besar.

"Mereka sudah tahu berbahaya, mereka sendiri tidak memakannya," ujarnya seraya mengimbau masyarakat konsumen lebhi waspada dalam memilih jajanan.

Indriaty mengajak konsumen untuk mengetahui ciri-ciri makanan mengandung bahan berbahaya. Misalnya dengan melihat fisik dan rasanya.
"Makanan yang mengandung pewarna kuning methanil ditemukan di beberapa jenis makanan di antaranya, kerupuk, mie basah, pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna pada tahu," jelasnya.

Biasanya, lanjut Indriaty, pewarna kuning Methanil ini warna kuningnya mencolok dan berbintik-bintik karena tidak homogen dengan adonan makanan.

"Rhodamin B merupakan pewarna sintesis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. Bentuknya serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Zat warna ini juga dilarang digunakan untuk makanan. Rhodamin B berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan," tambahnya.

Akibat yang ditimbulkan, lanjutnya bisa iritasi pada saluran pernapasan, iritasi kulit, iritasi mata, iritasi saluran pencernaan, dan kanker hati.

Dia menyebutkan penyalahgunaan Rhodamin B untuk pewarna pangan telah banyak ditemukan pada panganan seperti kerupuk, terasi, dan beberapa jajanan yang berwarna merah.

"Memang efek zat ini tidak langsung terasa, tetapi jika dikonsumsi terus menerus bisa membahayakan jiwa," ungkapnya.

Uniknya, tambah Indriaty, para pelaku tidak jera-jera karena sanksi yang diberikan juga tidak jelas. Indriaty menghimbau kepada pemerintah dan penegak hukum untuk menindak tegas pelaku karena BPOM hanya mengawas dan mengontrol saja.

Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin, menanggapi masalah ini langsung meminta BB POM lebih rutin melakukan razia makanan dan minuman.
Menurut Alex, dengan razia yang dilakukan rutin, maka produsen nakal tidak leluasa mengedarkan produk makanan yang berbahaya tersebut.

"Saya minta razia ini rutin, jangan berikan kesempatan produsen nakal mengedarkan produk yang mengandung zat berbahaya," pinta Alex seraya menyebutkan biasanya, BPOM melakukan razia tiga bulan sekali.
Penulis: Tarso
Editor: Soegeng Haryadi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
237781 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas