Banjir Rendam 120 Rumah
Terpaksa Masak di Tetangga
Hujan yang mengguyur kota Palembang sejak subuh, Selasa (11/12), menyebabkan banjir di sejumlah wilayah.
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
Banjir sedikit menyulitkan warga yang ingin mengerjakan aktivitas rumah tangga. Maemunah (50) contohnya. Ia terpaksa memboyong peralatan dapur dan menumpang masak di rumah tetangga. Sebelumnya Maemunah bersama empat anaknya berhimpitan duduk di kursi menunggu hujan reda hingga pagi hari untuk mengungsi.
“Diketahui rumah sudah dimasuki air sekitar pukul 03.30 WIB. Saat air mulai meninggi kami sekeluarga duduk susun dencis di kursi. Sekitar pukul 04.30 WIB air sudah sampai lutut. Mau mengungsi kemana? Tak bisa karena di luar hujan deras. Kami cuma bisa duduk melihat air dan menahan kantuk,” ujarnya, Selasa (11/12).
Diungkapkannya hujan kali ini adalah yang terparah di sepanjang tahun 2012. Bila sebelumnya hanya halaman yang terendam, namun kini rumah kontrakan Maemunah yang menjadi korban. Ia berharap ada penyelesaian dari pemerintah dalam menghadapi banjir.
“Tahun ini yang ketiga. Kalau biasanya cuma merendam halaman sampai mata kaki tapi sekarang sampai lutut saya. Kami dari warga di sekitar minta ini kejadian yang terakhir. Kalau anak saya yang nomor dua berumur 24 tahun, dia cuma minta papan. Dia mau buat ambenan untuk tidur kalau banjir datang lagi,” kata Maemunah disambut tawa.
Ifan (40) menilai banjir dengan pesimis. Banjir yang datang semakin mempersulit keadaan rumah kontrakannya. Warga Lorong Lebak Keranji ini pun hanya bisa pasrah. “Air tak masuk ke rumah kami, karena di dalamnya sudah penuh air semua. Sudah sempit jadi semakin sempit. Kita tak bisa sedih karena keadaannya memang begini. Kebanjiran,” tuturnya.
Menurut Ketua RT 11, Zakiminoto, banjir di wilayahnya disebabkan tumpukan sampah, keladi dan enceng gondok di Sungai Lebak Keranji. Sampah-sampah berupa botol plastik dan tanaman liar tersebut menghambar aliran air menuju Sungai Kedukan.
Dikatakannya jika warga sudah mengadukan hal ini ke pihak Kelurahan. Namun bukan jawaban yang didapat, warga justru menuai makian dari pihak Kelurahan setempat. Dengan peralatan seadanya warga pun menggelar bhakti sosial membuang sampah dan enceng gondok serta menebas tanaman keladi. Hasilnya tak membawa perubahan besar.
“Harusnya air selokan mengalir ke DAM Sungai Lebak Keranji. Tapi karena sampah, enceng gondok dan keladi menutupi aliran jadi sungai pun meluap. Pekerjaan secara swadaya hanya berhasil membuka aliran dua meter, tak mengurangi debit air secara signifikan. Terlihat sudah hampir sembilan jam air belum juga surut,” jelasnya.
Zakiminoto kewalahan menghadapi keluhan warga. Hampir semua warga yang masih bertahan di rumah katanya khawatir terjadi banjir susulan, mengingat bulan ini adalah puncaknya hujan deras. “Benar nanti pasti banjir lagi. Kami bingung juga mau bagaimana. Mau mengungsi tak tahu harus kemana. Sudah setengah pasrahlah,” sebutnya. (mg5)