A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Mewaspadai Lima Jebakan Modernisasi - Sriwijaya Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 31 Agustus 2014
Sriwijaya Post
Home » Opini

Mewaspadai Lima Jebakan Modernisasi

Jumat, 7 Desember 2012 10:52 WIB
Mewaspadai Lima Jebakan Modernisasi
Sripo/Ist
Havis Aravik, MSi Dosen PAI Universitas IGM Palembang
Havis Aravik, MSi
Dosen PAI Universitas IGM Palembang

MODERNISASI secara umum diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Tetapi dalam konteks kekinian modernisasi sudah menjadi jimat dan kalimat ampuh yang mampu membuai banyak orang yang tanpa sadar ‘terjebak’ dalam arus modernisasi dengan menenggelamkan dirinya dalam lingkaran ketidakpastian.

Dewasa ini, Amerika (Paman Sam) telah memproklamirkan dirinya menjadi kiblat modernisasi. Gaya hidup serba liberal, kapitalis dan glamour disulap seolah-olah sangat memikat dan menakjubkan. Sehingga lewat berbagai cara mereka berusaha agar setiap orang mengikutinya termasuk umat Islam (Perdana, 2003:140).
Sedikitnya ada lima jebakan modernisasi yakni:

Pertama, fashion. Perempuan merupakan sasaran utama semua produk yang bersangkut paut dengan dunia kapital (modern). Dengan semangat mempropagandakan westernisasi globalisasi dan materialisme, disulaplah berbagai model fashion yang ditawarkan kepada umat Islam, seperti jilbab gaul yang hanya dililitkan di leher sembari tetap memperlihatkan bagaimana bentuk dan lekukan tubuh.

Selain itu, berkat ideologi kapitalis, kini mengenakan jilbab bukan sekadar mematuhi perintah agama, tetapi bagaimana dalam pengertian model, jilbab juga memenuhi unsur gaya, modis, elegan dan tampak vulgar serta seksi. Perbuatan seperti ini sudah jauh-jauh hari diprediksi Rasulullah SAW:
“Di akhir masa nanti akan ada di antara umatku, perempuan-perempuan berpakaian, tetapi telanjang, di atas kepala mereka terdapat seperti punuk unta (maksudnya meninggikan rambut seperti punuk unta), mereka itu adalah manusia-manusia yang terkutuk.”

Dari Abdullah Ibnu Umar ra, dia berkata: “Telah berkata Rasulullah SAW, barangsiapa yang memakai pakaian kemasyhuran di dunia, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian dinyalakan baginya api neraka.” (HR Abu Daud). (Abu Syuqqah, 1995:247).

Kedua, fun. Hiburan menjebak umat Islam untuk sibuk mengejar kenikmatan sesaat yang fana seperti mabuk-mabukan, berjudi, korupsi, berzina dan lain sebagainya. Kemudian ideologi modernisasi menciptakan slogan-slogan penyemangat bahkan menjadi jimat untuk mendapatkan hiburan seperti gaul, funcy, happy, modern, alay, metal dan sebagainya.   

Konsekuensinya, budaya dansa-dansi, pesta laki-laki perempuan anak-anak muda biasa saja dan ujung-ujungnya zina bukan suatu hal yang haram, itu semua demi ideologi kebebasan (freedom), fantasi dan sensasi (Hidayat, 2009:174).

Lebih dari itu, peradaban dugem (dunia gemerlap) dijadikan eks presi gejolak emosional khas anak-anak muda. Di situ, mereka bebas berjingkrak-jingkrak, mereguk alkohol dan narkoba, cekikikan sampai pagi, lalu pulang dalam keadaan teler dan capai. Melalui dugem, mereka bisa menemukan komunitas bergaul dan identitas. Pendeknya, peradaban dugem adalah just having fun, sekadar hura-hura yang membutuhkan money dan fulus (Pradana, 2003:17).

Islam jelas-jelas melarang perbuatan terkutuk itu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”  
“Sesungguhnya setan itu bertekad untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian sesama kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. Dan setan itu menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari salat. Maukah kamu berhenti?” (QS 5:90-91).

“Mereka bertanya kepadamu tentang minum khamar (segala macam minuman yang memabukkan) dan berjudi. Katakanlah, “kedua macam (perbuatan itu) dosa besar (dan ada manfaat) bagi manusia, tapi dosanya jauh lebih besar daripada manfaat itu.” (QS 2:219).

Ketiga, song. Jebakan modernisasi terdapat juga dalam lagu-lagu sekarang di mana mayoritas menyeret individu kepada pendangkalan akidah dan pendekonstruksian pola pikir yang benar kepada kebatilan. Hal ini bisa dilihat dari tema-tema lagu mulai dari jatuh cinta, selingkuh, pengorbanan, sakit hati, mabuk cinta, putus cinta dan banyak lagi yang lainnya. Sangat destruktif, vulgar dan menjurus kepada hal-hal yang irrasional.

Keempat, sinema. Di bidang perfilman jebakan modernisasi melebarkan sayapnya dengan menjauhkan umat Islam dari agamanya. Hal ini terlihat pada hampir semua film produksi baik bertema politik, kriminal, horor maupun drama pasti ada selingan adegan hubungan seksual minimal ciuman bernafsu antara laki-laki dewasa dan perempuan karena menurut mereka sebuah film belum lengkap tanpa ada sentuhan seks di dalamnya.

Film-film itu juga merupakan khutbah para modernisisme untuk mendewakan budaya selingkuh, budaya porno dan budaya materialias (Hidayat, 2009:134). Dampak yang mengemuka adalah para pemuda dan gadis Islam sudah terbiasa menanggalkan aurat mereka, marriage by accident, melacur demi uang dan lain-lain.
Film juga merupakan cara efektif untuk mempropagandakan pemikiran baik secara halus maupun kasar. Sehingga sadar atau tidak, banyak umat Islam yang menjadikan artis-artis film sebagai idol (berhala) dan meniru semua yang diserapnya di film-film tersebut. Mulai dari cara berpakaian, bermusik, berbicara sampai berideologi dan lain sebagainya.

Kelima, seks. Di era modernisasi seks sengaja dijadikan aset komoditi dengan cara memproduksi jenis-jenis model pakaian, kaos dan baju yang serba minimalis, ketat dan seksi. Model-model fashion ini untuk memberikan impresi seksual dan sensual yang tentunya akan menggugah motivasi seksual kaum remaja.
Kemudian mengiringi kaum remaja ke arah “pengkiblatan” seorang figur publik, sebutlah artis. Karenanya, promosi dan publikasi produk-produk global apa pun selalu membutuhkan iklan-iklan yang di dalamnya menggunakan jasa-jasa artis untuk mempopulerkan produknya (Perdana, 2003:144).

Ideologi modernisasi atas nama demokrasi dan hak asasi manusia juga mencoba memaksakan sebuah paradigma berpikir bahwa penyimpangan seksual yang terdapat dalam diri manusia adalah sebuah hak asasi yang harus difasilitasi dan diakui eksistensinya di masyarakat, bahkan di beberapa negara seperti Belgia dan Belanda. Di kedua negara ini homoseksual dan lesbian sebagai sesuatu yang sah dan dilindungi undang-undang.

Padahal seks dalam perspektif Islam diposisikan secara terhormat. Seks disakralkan dan bukan lantaran ia adalah anugerah Tuhan, melainkan karena Islam sangat menyadari bahwa seks dapat memicu laju peradaban Islam ke arah kerusakan teologis dan sosial bila tidak dikelola dengan baik.

Di lain pihak, Islam juga sangat memafhumi bahwa secara instingtif manusia manapun sangat membutuhkan penyaluran seksual. Hasrat seksual berbanding lurus dengan eksistensi manusia itu sendiri. Bahkan Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa “Pernikahan itu adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku.”

Jebakan-jebakan modernisasi itu setidaknya memiliki beberapa target. Di antaranya:
w Ifsad al-Akhlaq = pengrusakan akhlak (QS 61:8 dan 9:32)
w Tahzhim al-Fikrah = penghancuran pemikiran (QS 4:60)
w Idzabah al-Syakhsiyyah = melunturkan atau melarutkan kepribadian (QS 68:6 dan 4:89)
w Al-Riddah = penumbangan akidah
w Al-Wala lil Kafirin = loyalitas kepada kaum kafir (QS 5:51).   

Akhirulkalam, menghadapi aneka jebakan modernisasi itu, marilah sejenak kita merenungkan seksama firman Allah SWT berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan orang-orang di luar golongan kamu menjadi orang kepercayaanmu. Mereka tidak akan henti-hentinya melakukan keonaran kepadamu. Mereka senang berbuat yang menyusahkan (menyulitkan) kamu. Kebencian telah nyata (terbukti) dari mulut (ucapan) mereka. Yang tersembunyi (niat jahat) dalam hati mereka lebih besar lagi. Sesungguhnya telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami, jika kamu (mau) memikirkannya.”

“Kamulah yang mengasihi mereka, padahal mereka tidak menyukaimu. Dan kamu iman kepada semua kitab-kitab. Apabila mereka berjumpa dengan kamu, mereka berkata, “Kami beriman.” Dan apabila mereka menyendiri (terpisah darimu) mereka menggigit ujung jarinya karena marahnya kepadamu. Katakanlah: “Matilah karena kemarahanmu.” Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang terpendam di dalam dada.” (QS 3:118-119). Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
184162 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas