Suku Kubu Jambi Nyasar ke Sembawa

Warga Desa Pulau Harapan Kecamatan Sembawa termasuk para pengemudi kendaraan yang melintasi ruas Jalintim

Suku Kubu Jambi Nyasar ke Sembawa
Sripo/Ist
MENGEMIS — Suku anak dalam atau suku kubu Jambi saat mengemis di Desa Pulau Harapan Kecamatan Sembawa Banyuasin, Senin (19/11).
BANYUASIN,SRIPO — Warga Desa Pulau Harapan Kecamatan Sembawa termasuk para pengemudi kendaraan yang melintasi ruas Jalintim Palembang-Jambi nampak kaget bercampur iba. Pasalnya, belasan orang suku anak dalam yang kemungkinan berasal dari Provinsi Jambi mengemis di sepanjang Jalan Lintas Timur (Jalintim) Banyuasin dan rumah-rumah warga.  Para suku kubu ini diduga  tersesat di kabupaten Banyuasin dan tidak tahu jalan pulang ke daerah asal mereka.

    Jaini (48), warga Pulau Harapan mengatakan jika kedatangan suku pedalaman dari provinsi Jambi tersebut sudah dua hari lalu. Mereka malah menetap tidak menentu, keluar masuk wilayah desa. Bahkan, sambil meminta-minta uang kepada masyarakat. “Suku anak dalam ini mungkin jumlahnya sudah belasan. Dua hari ini mereka jalan beriringan. Kusut dan tidak terurus, sebagian dari suku pedalaman tersebut merupakan perempuan dan anak-anak,” katanya.

Dikatakan Hamid, komunikasi bahasa yang berbeda serta penampilan yang tidak terurus, membuat warga desa sangat iba. Sebagian warga ada yang memberi pakaian. “Kasihan, ada anaknya yang tidak pakai baju. Kami susah bicara karena logat bahasanya beda,” kata dia.

Kepala Desa (Kades) Sembawa, Rainan Harun mengatakan kedatangan belasan orang suku pedalaman Banyuasin malah menjadi daya tarik masyarakat desa. Ada beberapa warga desa yang berani mengajak komunikasi, akan tetapi tidak bisa karena orang-orang suku pedalaman itu sulit dalam komunikasi.
“Susah diajak bicara, hanya bilang mau pulang. Kami warga desa juga susah,” katanya.

Apalagi dengan kondisi mereka yang tidak nampak terurus, maka banyak warga desa dan pengguna jalan lintas yang memberikan uang. Ada juga warga yang memberikan makanan dan baju layak pakai bagi anak-anak dan ibu-ibu.

“Mereka itu tersesat, ingin pulang namun tidak tahu jalan pulang. Mereka hanya sebut berasal dari Sarangeh,” ujarnya seraya mengatakan jika beberapa warga desa malah berharap, agar orang-orang suku pedalaman itu dapat ditampung lalu dikembalikan ke daerah asal.

“Mereka ada yang nurut. Tapi ada juga yang pergi dan berjalan sepanjang arah Jalintim,”tukas dia.

Kadinsos Drs H Indra Hadi MSi melalui Kabid Bantuan Jaminan Sosial Dinas Sosial (Dinsos), Ahmad Riduan mengatakan jika Pemkab Banyuasin memiliki anggaran dalam bentuk bantuan terhadap gelandangan dan orang tersesat seperti halnya orang-orang suku pedalaman dari Jambi tersebut.
Akan tetapi yang kerap menjadi masalah, yakni orang-orang suku Jambi itu malah enggan diantarkan pulang ke daerah asal mereka.

“Karena keterbatasan komunikasi, lalu mereka menyangka akan ditangkap, maka jika diajak mereka malah lari. Sebenarnya ada dananya dan pernah Pemkab memulangkan orang-orang suku pedalaman tahun lalu,” jelasnya. (udn)


Hidup Nomaden
Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.

Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.

Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan.

Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme, tetapi ada juga beberapa puluh keluarga suku kubu yang pindah ke agama Islam. (wikipedia)

Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved