Tragedi Penembakan di Limbangjaya
Instruksi Presiden Diabaikan Polisi
Kekerasan oleh Satuan Brimob saat merespons konflik lahan di Ogan Komering Ilir memperlihatkan instruksi Presiden SBY tak dianggap polisi.
Tayang:
Editor:
Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM, JAKARTA - Kekerasan oleh Satuan Brimob Kepolisian Republik Indonesia saat merespons konflik lahan di PT Perkebunan Nusantara VII Cinta Manis di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, memperlihatkan bahwa instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tak dianggap oleh polisi.
"Omongan Presiden bahkan tidak didengar oleh polisi. Hanya manis di lidah saja, tidak dilanjutkan dengan perintah yang jelas, tentang siapa yang harus membuat tim, anggotanya siapa saja, bekerja sejak kapan, dan seterusnya. Meski aparat tahu dan mendengar pidato Presiden tersebut, mereka menganggap baru diwacanakan, belum akan ditindaklanjuti," sebut Deputi Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Iwan Nurdin, Sabtu (28/7/2012).
Seperti diberitakan, Angga bin Dharmawan (12) tewas tertembak saat terjadi bentrok antara warga dengan polisi di Desa Limbang Jaya I dan II, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan pada Jumat (27/7/2012) siang. Empat warga lainnya terluka kena tembakan dalam konflik berlatar belakang konflik lahan PT Perkebunan Nusantara VII Cinta Manis. Korban masih dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang.
Padahal, seusai menggelar Sidang Kabinet di gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (25/7/2012), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan pembentukan tim terpadu guna menyelesaikan konflik lahan antara warga dan PTPN VII Cinta Manis di Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Presiden meminta penyelesaian sengketa lahan tersebut dilakukan secara komprehensif, tak hanya melalui pendekatan hukum, tetapi juga sosial dan budaya.
Menurut Iwan, kejadian tersebut mengulang kembali kejadian akhir tahun 2009, ketika masyarakat Desa Rengas 23 orang tertembak oleh Brimob Polda Sumsel akibat konflik lahan dengan PTPN VII.
"Kali ini bahkan lebih kejam karena diawali dengan sweeping di kampung-kampung yang bersebelahan dengan perkebunan, penangkapan, sebelum kejadian penembakan membabi-buta," sebut Iwan.