Kamis, 27 November 2014
Sriwijaya Post

Sopir Truk Enam Hari Tertahan di Pelabuhan 35 Ilir Palembang

Selasa, 19 Juni 2012 21:02 WIB

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Puluhan truk pengangkut barang tujuan Bangka Belitung (Babel) tertahan di Pelabuhan 35 Ilir Palembang sejak sepekan lalu. Pasalnya, empat dari delapan kapal yang ada tidak beroperasi.

Tiga armada masih dalam perbaikan dan satu lagi diperbantukan ke Balikpapan. Kondisi ini membuat sejumlah sopir yang berasal dari luar Sumsel terpaksa tidur di mobil dan menunggu tanpa kepastian.

“Saya bawa barang konstruksi dari Kudus (Jawa Tengah) mau diantar ke Pangkal Pinang (Babel). Tapi sudah enam hari enam malam saya tertahan di sini, belum tahu kapan bisa nyeberang,” ujar Moslan, salah seorang sopir truk fuso asal Jawa Tengah.

Moslan mengaku tiba di dermaga atau pelabuhan ini sejak Kamis atau enam hari lalu. Namun di luar dugaan, kendati sudah memiliki tiket yang dibeli seharga Rp 3 juta ia harus mengantri karena banyak kendaraan yang lebih dahulu ada di sana. Hingga saat ini ia sendiri tidak tahu kapan akan berangkat.

“Saya sudah tanya ke petugas pelabuhan. Katanya bakal ada tambahan kapal. Tapi ya itu sampai saat ini belum ada. Karena yang saya bawa barang konstruksi, ya terpaksa menunggu,” terangnya.

Hal senada dikatakan Ridwan, salah seorang sopir truk asal Lampung. Menurut dia, lebih dari 20 truk yang tertahan bersama mereka. Tapi umumnya truk-truk dan sopirnya itu umumnya berasal dalam wilayah Sumsel. Karena itu, meski tertahan di pelabuhan para sopir tidak harus menginap di pelabuhan.

“Lihat saja, walaupun mobilnya banyak sopirnya tidak ada. Karena mereka rata-rata orang sini dan bisa pulang ke rumah, tempat saudara atau teman. Kalau saatnya berangkat ditelepon. Lah kami, terpaksa tidur di sini sampai bisa berangkat,” kata Ridwan.

Ia mengatakan, tertundanya keberangkatan hingga berhari-hari menimbulkan kerugian baik waktu maupun bentuk materil. Jika biasanya dari tempat asal ke tujuan cukup waktu dua hari, kini memakan waktu seminggu  bahkan lebih. Di sisi lain selama menunggu di pelabuhan, ia dan beberapa sopir lain merasa tidak cukup nyaman.

“Bagaimana mau nyaman mas, kami di sini diteleponi keluarga. Belum lagi  konsumen yang punya barang. Mana banyak nyamuk pula, badan  saya aja sampai bentol-bentol selama di sini,” jelasnya.

Moslan dan Ridwan, dua di antara belasan sopir yang mengeluh karena kondisi tersebut. Beberapa di antaranya bahkan menyimpulkan kalau Pelabuhan 35 Ilir Palembang ini yang terburuk dari banyak pelabuhan yang dilaluinya. Sebab selain tidak tersedia fasilitas yang memadai, di pelabuhan ini juga masih menganut tradisi pungutan liar atau calo tiket.

Marno, salah seorang sopir asal Pulau Jawa mengatakn, selama ratusan kali menyeberang melalui pelabuhan ini ia tidak pernah luput dari tangan kotor para calo. Meski ada loket tempat membeli tiket penyeberangan, namun ia tidak pernah bisa membeli sendiri secara langsung, melainkan harus melalui calo.

“Kami tau loketnya, tapi tidak pernah bisa beli sendiri. Harus melalui yang megang (preman) sini. Kalau tidak nurut, ya dikejar,” katanya.

Bukan hanya calo yang menjadi masalah, kata Marno. Praktik pungutan liar pun tak bisa dihindari. Terutama menyangkut harga tiket yang selalu harus lebih rata-rata Rp 250 ribu.

“Untuk truk fuso itu kena Rp 3 juta. Kalau truk biasa Rp 1,7 juta-Rp 2 juta. Itu rata-rata selisih Rp 250 ribu dari harga tiket yang sebenarnya. Di pelabuhan lain gak ada kayak gini,” tambahnya.

Pantauan Sripoku.com, Selasa (19/6) sekitar pukul 13.00 suasana pelabuhan ini relatif sepi. Tak banyak aktivitas baik di terminal penumpang maupun angkutan barang. Namun di terminal angkutan barang tampak berjejer truk yang dimonasi plat atau nomor polisi untuk wilayah Sumsel.

Kendati demikian, tidak terlihat ada sopir di truk-truk yang berjejer itu. Pintu mobil tertutup, dan kondisi mesin mati. Sementara isinya, umumnya barang konstruksi seperti keramik, semen, dan sebagian berisi pupuk. Hanya ada beberapa mobil dari luar Sumsel yang terlihat ada sopir serta kernetnya.

Sebagian tidur di dalam mobil, sebagian lain berbaring di bawah pepohonan. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali menetap, tidur dan makan di sana sampai ada kepastian berangkat.

Dikonfimasi mengenai kondisi yang terjadi, Kepala Pelabuhan 35 Ilir Palembang A. Ansyori menjelaskan, keberadaan truk yang terparkir di pelabuhan tersebut masih tergolong normal. Kalaupun ada sejumlah truk yang belum bisa menyeberang, itu karena kapal yang beroperasi memang kurang. Sebab, dari delapan armada yang ada hanya empat kapal yang beroperasi.

“Jadi dalam sebulan ini tiga kapal kita masih dalam perawatan secara bergantian. Nah kebetulan yang satu lagi diperbantukan. Tapi kita sudah mendapat konfirmasi, dalam seminggu ini kapal yang diperbantukan akan kembali,” katanya.

Menurut Ansyori, pihaknya sudah berkoordinasi dalam sebuah rapat bersama sejumlah petugas pelabuhan. Ia memastikan, sore kemarin akan ada tambahan satu armada kapal Srikandi Nusantara yang sudah selesai menjalani perawatan. Dengan begitu, antrean kendaraan yang ada akan tuntas dalam satu atau dua hari ini.

“Saya kita tidak ada masalah dengan antrean itu. Jadi kendalanya memang murni karena ada beberapa kapal yang dalam perawatan,” tandasnya.

Dimintai tanggapan tentang kondisi yang terjadi, Ketua Komisi II DPRD Kota Palembang A Novan mengaku belum mengetahui secara langsung kondisi di lapangan terkait adanya antrean truk di Pelabuhan 35 Ilir ini.  Termasuk adanya keluhan para sopir mengenai pungli atau calo tiket.

Untuk memastikan kebenarannya, pihanya perlu mendapat konfirmasi dengan pihak pelabuhan atau Dishub Kota Palembang. Bahkan, dalam waktu dekat pihaknya juga akan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) untuk menyelidiki kebenarannya.

“Jujur saja saya belum melihat secara langsung kalau ada antrean. Apalagi kalau ada truk yang sudah seminggu di sana. Kita akan lihat ke lapangan dalam waktu dekat,” ujarnya singkat.

Tanggapan berbeda dikemukakan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumsel Taufik Husni. Ia menilai, selama ini Pelabuhan 35 Ilir memang tidak pernah mau berubah. Baik dari sisi pelayanan maupun fasilitas yang ada. Menurutnya, jika ada keluhan mengenai kebobrokan pelabuhan ini, itu bukan hal baru. Karena sudah berlangsung sejak lama.

Namun, mencermati kondisi yang terjadi saat ini, menurutnya Dishub Kota maupun Dishub Provinsi Sumsel harus bertanggung jawab terhadap kerugian konsumen. Sebab, akibat sistem yang tidak baik dan pelayanan yang tidak profesional, bukan hanya sopir yang dirugikan melainkan pemilik barang yang dibawa.

“Harusnya Dishub bertanggung jawab soal ini. Mereka tidak hanya rugi soal materi, tetapi juga rugi waktu. Tapi memang begitulah pelabuhan ini, tidak pernah mau berusaha memperbaiki kualitas maupun pelayanan,” ujarnya.


•    Sekitar 21 truk pengangkut barang tertahan di Pelabuhan sejak sepekan lalu.
•    Umumnya kendaraan dalam wilayah Sumsel dan membawa barang konstruksi.
•    Tigat dari delapan kapal yang tersedia tidak beroperasi karena dalam
perbaikan.
•    Satu kapal diperbantukan ke Balik Papan.
•    Sejumlah sopir mengeluh karena sudah seminggu berada di sana.
•    Belum tahu kapan kepastian berangkat.
•    Pihak pelabuhan menjanjikan tambahan kapal sejak sehari lalu.
•    Konsumen yang mengalami masalah dapat menghubungi Polsekta IB 2 di
0711352973. Atau pihak pelabuhan di 0711440837.
•    Dishub harusnya bertanggung jawab terhadap pelayanan konsumen.
•    Komisi II DPRD Kota Palembang segera lakukan Sidak
Penulis: Eko Adiasaputro
Editor: Hendra Kusuma

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas