A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Relokasi Lingkungan Masjid Kiai Marogan Dikhawatirkan Kurangi Jemaah - Sriwijaya Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Sriwijaya Post

Relokasi Lingkungan Masjid Kiai Marogan Dikhawatirkan Kurangi Jemaah

Jumat, 1 Juni 2012 10:58 WIB
Relokasi Lingkungan Masjid Kiai Marogan Dikhawatirkan Kurangi Jemaah
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Masjid Kiai Marogan yang lingkungannya bakal direlokasi.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Rencana Pemkot Palembang merelokasi warga sekitar Masjid Kiai Marogan Kertapati dikhawatirkan bakal menggusur rumah warga yang dirasa akan mengurangi jemaah masjid bersejarah ini.

"Rencananya pada Haul Kiai Marogan ke-111 yang digelar Kamis (7/6/2012) pukul 16.00 di Masjid ini kita akan membaca yasin, tabligh akbar bersama KH Sutisna (pimpinan Pesantren Daarul Ansor Pakuhaji Banten) dan alim ulamaa se-Palembang untuk mengenang perjuangan dakwah, sosok KH Abdul Hamid bin Mahmud yang dikenal Kiai Marogan meninggal tahun 1901.
 
Momen ini sangat baik untuk merajut tali silaturahim antara anak, cucu, cicit Kiai Marogan menyatukan pandangan jangan sampai berkurang jemaah akibat rencana penggusuran rumah warga sekitar dari Pemkot yang ingin menjadikan taman di areal masjid. Isi haul juga akan membacakan 1.000 Al Fatihah untuk almarhum/almarhumah yang berbarengan haul ini. Silahkan mengirim SMS nama, bib/binti keluarganya untuk dibacakan Al Fatihah ke 08569038828," ungkap Panitia Haul Kiai Marogan, ustad Masagus Fauzan Yayan SQ.

Menurut Yayan, Ketua masjid, Mgs Memet Ahmad, dalam setahun ini berencana minta pelebaran kanan-kiri jalan arah masuk Masjid Marogan kemudian disambut H Halim, pengusaha dermawan dengan menggelontorkan dana sekian miliar yang eksekutornya dipercayakan ke Pemkot.

"Tapi jadi melebar ke arah penggusuran rumah warga keseluruhan, pengen dibuat taman nanti yg tersisa hanya bangunan masjid, pengukuran rumah telah dilakukan 4 bulan yang lalu. Mangcik Memet pun setelah tahu semua akan dibongkar sekarang berbalik menyatakan menolak rencana tersebut, karena niatnya hanya pelebaran jalan 5x5 m misalkan sudah lebih dari cukup untuk keluar masuk kendaraan dan ini masuk akal. Tapi kalau semua rumah di lingkungan masjid dihabiskan meskipun status tanahnya sampai pintu gerbang masjid diklaim oleh PT KAI (stasiun) milik stasiun maka dampak penggusuran ini akan mengurangi jamaah masjid. Bahkan yang lebih aneh lagi kenapa Pemkot yang dalam hal ini Pak Camat berani menyentuh tanah wakaf Kiai Marogan," kritik pengasuh Rumah Tahfiz Kiai Marogan.

Yaitu batasnya dari pintu gerbang sampai ke sungai, dimana sudah lama berdiri bangunan masjid, rumah dzurriyyat (anak cucu), wakaf makam (gubah) kiai dan dzurriyyat, bangunan wakaf Ruamah Tahfidz Kia Marogan, asrama para santri penghafal Al-Quran. Mengenai Rumah Tahfidz yang lokasinya di depan Sungai Musi baru selesai pembangunan dimana dananya merupakan wakaf orang banyak baik pejabat, ulama, ataupun perusahaaan di Palembang. Seperti Karyawan PT KAI, Pertamina, pesantren ustad Sholihin Hasibuan, ustad Hendra Zainuddin, Ade Karyana (Kepala Diknas Sumsel), Hj Masyitoh Romi Herton, Hj Tartila Ishak Mekki, Hj Herawati Rachman Djalili. Peletakan batu pertamanya oleh ustad Yusuf Mansur disaksikan  Aidil Fikri MT, H Afandi (Ketua PITI), dll. 

Senin (28/5/2012) siang, ada pemanggilan tiap KK termasuk perwakilan rumah tahfidz di kantor PT KAI. Yayan berharapsemoga pihak H Halim dan Walikota menegur aparat yang di lapangan dan memperhatikan dampak dan kebijakan yang dikeluarkan. 

"Mestinya niat yg baik jangan melukai hati masyarakat, saya lihat sampai warga siap pasang badan meneriakkan slogan jihad. Kemudian jangan masuk ke tanah wakaf Kiai Marogan yang memang milik dzurriyyat. Menggusur bangunan wakaf sama saja menggusur bangunan Allah di muka bumi, yang harus ditentang," tegasnya. 

Yayan mengakui memang dzurriyyat Kyai Marogan tidak berdaya dengan tangan-tangan penguasa. Cukup sudah, beroperasinya perusahaan batubara menyebabkan tercemarnya lingkungan masjid dan Sungai Musi dengan kepulan debu batubara, sekarang masjid seperti ingin dijadikan museum sejarah yang hanya jadi tontonan tapi kosong jamaahnya.  InsyaAllah doa orang-orang lemah dan tertindas akan mampu menggetarkan Arasy. 

Camat Kertapati, Zaini membantah jika relokasi ini disebut penggusuran. Pasalnya, rencana yang sudah lama dan kini disosialisasikan bertujuan mensejahterakaan masyarakat.

"Di wilayah itu kan tanahnya PTKAI. Kini beroperasi PTBAU menjorok ke pemukiman. Kami tidak bisa berbuat banyak karena itu lahan PTKAI. Mereka juga mencari duit. Meskipun kalau hujan pada hitam batubara, dan kalau kering berdebu. Kita akan merelokasi ke tempat yang lebih layak. Sudah berapa tahun, nah kebetulan ada pihak ketiga H Halim yang menginfakkan Rp 3 M untuk masyarakat ini. Setelah diukur, ditetapkan, warga nanti setuju akan dilakukan ganti rugi," terang Zaini.

Menurut Zaini, usulan pelebaran guna mempercantik jalan menuju masjid ini usulan yayasan masjid.

"Dalam hal ini Memet. Jangan bolak-balik sekarang nyalahkan Pemkot. Setelah dalam seminggu ini masyarakat semua setuju, biaya kerohiman ini dibayarkan. Nanti silahkan dibayarkan langsung ke warga sehingga Pak H Halim puas amanatnya kesampaian yang nanti didampingi tim pembebasan jangan sampai kita dituding. Soal jemaah jangan khawatir berkurang, karena ini kan masjid bukan mushola bisa datang dari mana saja," ujar Zaini.
Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Soegeng Haryadi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas