Bayi Ini tak Punya Anus
Anaknya selalu menangis terutama ketika akan buang air besar sebab sering tersendat dan terasa perih sehingga ia harus menggunakan selang.
Penulis: Ardani Zuhri | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM, MUARAENIM - Mungkin jika tidak melihat langsung penderitaaan yang dialami oleh Anita Astuti (21) bersama anaknya semata wayang, Abel Keisye (9 bulan), orang tidak akan percaya.
Betapa tidak, dengan penghasilan pas-pasan, warga Kampung I, Desa Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung, Muaraenim, Sumatera Selatan, ini bersama
orangtuanya terancam hidup menjadi gelandangan karena demi untuk mengobati anaknya. Semua harta bendanya habis terjual dan tergadai.
Bahkan rumahnya yang berukuran 6 x 10 meter yang terbuat dari kayu
sudah termakan usia.
Lantainya tanah, tidur pun di atas tanah beralaskan tikar dan kasur usang. Jangankan peralatan elektronik, lampu saja hanya ada satu buah dan itupun menumpang dengan tetangga yang kasihan karena jika malam rumah selalu terlihat gelap gulita.
“Kami sudah tidak tahu lagi harus mengadu ke mana. Sawah sudah tidak punya lagi karena terjual. Rumah sudah tergadai dengan rentenir karena meminjam uang untuk mengobati anak saya. Suami sudah tidak bertanggungjawab lagi,” tukas Anita sambil menggendong anaknya dengan
mata bekaca-kaca, Minggu (30/10), di rumahnya.
Menurut Anita yang didampingi ibunya Yusana (50), sewaktu ia mengandung anaknya berumur empat bulan, suaminya yang berasal dari kampung tetangga tanpa sebab yang jelas meninggalkannya.
Sejak saat itu, praktis untuk memenuhi seluruh kebutuhannya terpaksa ia
membanting tulang bersama kedua orangtuanya.
Setelah anaknya lahir pada tanggal 11 Desember 2010, ternyata ada kelainan dalam reproduksinya yang menurut dokter bahwa anaknya menderita kelainan
usus sempit sehingga tidak bisa membuang air besar secara normal dan menyebabkan perutnya bengkak dan membiru.
Melihat kenyataan tersebut, awalnya ia syok dan tidak percaya. Bahkan suaminya meskipun sudah tidak menafkahinya secara lahir dan batir sempat diberitahukan tentang kelahiran anaknya yang menderita kelainan, namun ternyata disambut dingin.
Bahkan suaminya menuduh dirinya macam-macam seperti berselingkuh dan sebagainya sebab tidak menerima kondisi anaknya tersebut.
Melihat tidak ada upaya bantuan dari suaminya, akhirnya ayahnya Abu Hanan (70) mencoba mengupayakan pengobatan dengan menggunakan fasilitas program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan sempat menjalani
perawatan di RSUD Dr HM Rabain Muaraenim, namun akhirnya dirujuk ke
RSMH Palembang.
Atas saran dokter akhirnya anaknya dilakukan tindakan operasi. Selama menjalani perawatan dan penyembuhan yang memakan waktu sekitar satu bulan, ia sekeluarga terpaksa tidak bisa bekerja, padahal mereka memerlukan uang untuk akomodasi dan membeli obat.
Karena tidak ada uang lagi, akhirnya ayahnya terpaksa menjual sebidang tanah
sawah satu-satunya milik keluarga mereka seharga Rp 3,5 juta. Namun ternyata uang tersebut habis sehingga ayahnya kembali mencari pinjaman dengan rentenir sebsar Rp 4,5 juta yang tentu dengan bunga besar
dengan jaminan rumah dan tanah mereka satu-satunya.
“Kami tidak ada jalan lain yang penting anak saya selamat. Jadi uang tersebut bukan saja untuk makan mereka tetapi untuk membeli obat-obatan yang ternyata cukup mahal. Sebab yang gratis itu biaya operasi dan menginap, kalau obat tetap beli. Contohnya selang ini saja harganya Rp 90 ribu dan itu harus beberapa kali dibeli,” ujar Anita sembari menunjukkan selangnya.
Rencananya, usai melakukan operasi pertama yakni mengeluarkan usus untuk pembuangan tinja tersebut, seharusnya anaknya menjalani kembali operasi kedua yakni untuk pembuatan anus. Namun karena tidak ada biaya lagi terpaksa keinginan tersebut belum dilakukan.
Dan selama belum dioperasi, anaknya selalu menangis terutama ketika akan buang air besar sebab sering tersendat dan terasa perih sehingga ia harus menggunakan selang sebagai alat bantu mengeluarkan kotoran dari pinggangnya.