Jumat, 6 Maret 2015

Tarif Kamar Rp 75 Ribu Sampai Rp 2 Juta

Kamis, 21 Juli 2011 10:00 WIB

Tarif Kamar Rp 75 Ribu Sampai Rp 2 Juta
Sripo/Hdp
PASIEN SILOAM — Salah seorang pasien kelas 3 RS Siloam Lippo Village didampingi istrinya, Rabu (20/7). Di RS Siloam beda kelas 3 hanya fasilitas kamar sedangkan tindakan medis hampir sama dengan kelas 1.

HINGGA saat ini ada tujuh RS Siloam yakni Lippo Village, Kebun Jeruk, Lippo Cikarang, Jakarta, Surabaya, Jambi, dan Balikpapan. Rombongan pimpinan media di Sumsel melihat RS Siloam di Lippo Village dan Surabaya.

Harus diakui, kesan mewah RS Siloam Lippo Village langsung terasa ketika masuk di pintu gerbang, dijaga securiti dilengkapi layar monitor. Begitu masuk, pendaftaran pasien rumah sakit tidak seperti biasa, tapi nyaris mirip kalau kita mau check in di hotel berbintang. Suasana rumah sakit pun tidak tampak, yang ada mirip suasana lobi hotel berbintang.

Namun suasana pelayanan ramah tetap terasa baik tenaga administrasi maupun medis. “Kami memang rumah sakit berstandar internasional namun tetap peduli dengan masyarakat kurang mampu,” kata DR dr Andrey MM MHkes, Chief Executive Officer RS Siloam Lippo Village.

Selain menyediakan kamar seharga Rp 2 jutaan per hari, RSUS Lippo Village juga menyediakan kamar untuk pasien tidak mampu seharga Rp 75 ribu sehari. “Kami juga menerima pasien asuransi termasuk Askes jenis apa saja, bahkan kami juga menerima pasien Jamkesmas,” kata Andrey yang didampingi Danang Kamayan Jati, Head of Corporate Communication Lippo Group, induk (holding) RS Siloam
Menurut Andrey, dari 223 kamar, 25 persen diperuntukkan pasien kelas 3. “Kami berani menjamin, pelayanan medis tetap sama antara kelas 1 dengan kelas 3, yang beda hanya fasilitas kamar.
Obat-obatan dengan standar Askes kami berikan. Di luar Askes kami pernah memberi potongan harga obat untuk pasien tidak mampu hingga 30 persen,” jelas Andrey.

Memang sering ada pertanyaan apa tidak rugi, RS Siloam memiliki kamar dengan tarif Rp 75 ribu. “Pertama ini memang sudah menjadi komitmen Siloam Hospital Group, juga karena ada subsidi silang dengan pasien yang rawat inap di kamar VIP,” jelasnya.

Tidak Ada Misi Agama
Dalam kesempatan itu Andrey membantah Siloam memiliki misi agama. “Kami menghormati semua agama. Komposisi pemeluk agama karyawan juga beragam. Hampir 50 persen karyawan kami beragama Islam. Setiap Ramadan, kami menyelenggarakan buka puasa bersama,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta ini.

Sripo menyaksikan sendiri sejumlah pegawai wanita mengenakan jilbab, dan musala yang dimiliki RS Siloam Lippo Village cukup representatif. Memang letak musala ada di basement karena musala ini juga terbuka untuk masyarakat di luar rumah sakit seperti para sopir yang sedang menunggu atau keluarga pasien. Karena itu dilihat dari suasananya RS ini sama sekali jauh dari kesan rumah sakit yang memiliki misi agama.

Halaman12
Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas