• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Tarif Kamar Rp 75 Ribu Sampai Rp 2 Juta

Kamis, 21 Juli 2011 10:00 WIB
Tarif Kamar Rp 75 Ribu Sampai Rp 2 Juta
Sripo/Hdp
PASIEN SILOAM — Salah seorang pasien kelas 3 RS Siloam Lippo Village didampingi istrinya, Rabu (20/7). Di RS Siloam beda kelas 3 hanya fasilitas kamar sedangkan tindakan medis hampir sama dengan kelas 1.
Pengantar: Rencana pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam di Palembang menjadi polemik bahkan diramaikan dengan demo yang kontra maupun mendukung. Yang dimasalahkan antara lain Siloam memiliki misi agama, pegawai perempuan dilarang berjilbab dan tidak memiliki kelas untuk masyarakat miskin. Untuk mengetahui lebih detil tentang RS Siloam, Sripo dan sejumlah media mengunjungi dua rumah  sakit milik Grup Lippo itu, Rabu (20/7).

HINGGA saat ini ada tujuh RS Siloam yakni Lippo Village, Kebun Jeruk, Lippo Cikarang, Jakarta, Surabaya, Jambi, dan Balikpapan. Rombongan pimpinan media di Sumsel melihat RS Siloam di Lippo Village dan Surabaya.

Harus diakui, kesan mewah RS Siloam Lippo Village langsung terasa ketika masuk di pintu gerbang, dijaga securiti dilengkapi layar monitor. Begitu masuk, pendaftaran pasien rumah sakit tidak seperti biasa, tapi nyaris mirip kalau kita mau check in di hotel berbintang. Suasana rumah sakit pun tidak tampak, yang ada mirip suasana lobi hotel berbintang.

Namun suasana pelayanan ramah tetap terasa baik tenaga administrasi maupun medis. “Kami memang rumah sakit berstandar internasional namun tetap peduli dengan masyarakat kurang mampu,” kata DR dr Andrey MM MHkes, Chief Executive Officer RS Siloam Lippo Village.

Selain menyediakan kamar seharga Rp 2 jutaan per hari, RSUS Lippo Village juga menyediakan kamar untuk pasien tidak mampu seharga Rp 75 ribu sehari. “Kami juga menerima pasien asuransi termasuk Askes jenis apa saja, bahkan kami juga menerima pasien Jamkesmas,” kata Andrey yang didampingi Danang Kamayan Jati, Head of Corporate Communication Lippo Group, induk (holding) RS Siloam
Menurut Andrey, dari 223 kamar, 25 persen diperuntukkan pasien kelas 3. “Kami berani menjamin, pelayanan medis tetap sama antara kelas 1 dengan kelas 3, yang beda hanya fasilitas kamar.
Obat-obatan dengan standar Askes kami berikan. Di luar Askes kami pernah memberi potongan harga obat untuk pasien tidak mampu hingga 30 persen,” jelas Andrey.

Memang sering ada pertanyaan apa tidak rugi, RS Siloam memiliki kamar dengan tarif Rp 75 ribu. “Pertama ini memang sudah menjadi komitmen Siloam Hospital Group, juga karena ada subsidi silang dengan pasien yang rawat inap di kamar VIP,” jelasnya.

Tidak Ada Misi Agama
Dalam kesempatan itu Andrey membantah Siloam memiliki misi agama. “Kami menghormati semua agama. Komposisi pemeluk agama karyawan juga beragam. Hampir 50 persen karyawan kami beragama Islam. Setiap Ramadan, kami menyelenggarakan buka puasa bersama,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta ini.

Sripo menyaksikan sendiri sejumlah pegawai wanita mengenakan jilbab, dan musala yang dimiliki RS Siloam Lippo Village cukup representatif. Memang letak musala ada di basement karena musala ini juga terbuka untuk masyarakat di luar rumah sakit seperti para sopir yang sedang menunggu atau keluarga pasien. Karena itu dilihat dari suasananya RS ini sama sekali jauh dari kesan rumah sakit yang memiliki misi agama.

“Kami murni berusaha melayani kesehatan masyarakat, tidak ada menjalankan misi agama tertentu. Kami pun konsentrasi mengembangkan teknologi kesehatan,” jelas Andrey seraya mengungkapkan pihaknya selalu memperbaruhi teknologi kedokteran.

Ditanya tentang konsentrasi RS Siloam, dengan mantap Andrey mengungkapkan konsentrasi di penyakit jantung dan syaraf.

“Jika ada warga yang terkena serangan jantung dan dibawa ke Siloam, paling lambat 90 menit, pasien itu harus sudah berada di meja operasi,” katanya.

Karena itu Siloam mewajibkan sejumlah dokter menginap di rumah sakit untuk mengantisipasi, jika terjadi operasi, dokter sudah stanby. Sebab pengalaman selama ini ada operasi, dokter tak ada di tempat.

Demikian juga jika ada pasien terkena serangan stroke, 15 menit pertama harus diobservasi, lalu 45 menit diagnosa dan masuk ke unit stroke. “Sebab kalau terlambat pasien bisa tidak tertolong lagi”.

Ditambahkan Andrey, fasilitas RS Siloam akan dibuat sama dengan RS Siloam lainnya. Sehingga nantinya jika ada warga Palembang dan Sumsel umumnya bisa cepat ditangani di RS Siloam Palembang, tanpa harus dibawa ke Jakarta atau Singapura. “Untuk penyakit jantung dan stroke serta penyakit syaraf lain, kami bahkan lebih unggul dari Singapura,”tegasnya.

Rencananya, RS Siloam Palembang terdiri dari 200 kamar, 25 persen kelas 3 untuk pasien tidak mampu dan Jamkesmas.
 (hadi prayogo)
Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
72891 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas