• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Kapak Purba Ditemukan di Pagaralam

Sabtu, 11 Juli 2009 07:28 WIB

PAGARALAM, SRIPO — Batu berbentuk kapak diduga peninggalan zaman purbakala ditemukan Jimi, pemilik kebun kopi di Dusun Muaratenang, Kelurahan Prahudipo Kota Pagaralam, Jumat (10/7). Kapak batu itu diperkirakan peninggalan zaman neolitikum (1500 SM) jauh sebelum masa Kerajaan Sriwijaya.

Kapak batu itu bentuknya seperti kapak batu purba kebanyakan berbentuk lonjong dan ada bagian pipih. Pangkal kapak agak runcing dan ujung (mata kapak) lebih lebar. Ukurannya sisi kanan 14 cm, sisi kiri 20 cm, dan bagian bawah 10 cm. Tebal kapak 3 cm.

Warna kapak ini putih kecoklatan tidak seperti kapak batu purba lainnya yang didominasi warna hitam. Penemuan ini menarik perhatian arkelog karena di Pagaralam belum pernah ditemukan kapak batu purba.

“Seingat saya belum pernah ada kapak batu di Pagaralam. Di sana banyak ditemukan peninggalan megalitikum seperti gerabah dan tembikar,” kata Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti yang dihubungi Sripo, Jumat malam.
Jimi, penemu kapak batu itu mengatakan, saat ia sedang menggali lubang untuk menanam pohon kopi di kebun, secara tidak sengaja cangkul membentur benda keras. Ia penasaran, menggali lebih dan mendapati batu tersebut. Kemudian dibersihkan dan dibawa ke rumah untuk disimpan.

“Penemuan ini berawal dari mimpi yang dialami ibu saya. Dalam mimpi itu ada bisikan yang mengatakan ada kapak batu yang tertanam di kebun kopi milik saya,” ungkapnya.

Jimi tidak terlalu menghiraukan mimpi itu hingga kemarin cangkulnya membentur kapak purba.
“Semula saya hanya akan menyingkirkan untuk meneruskan membuat lubang tapi setelah diangkat batu itu terlihat aneh,” ujarnya.

Baru kemudian Jimi teringat mimpi ibunya dan menghubungkannya dengan penemuan itu. Dia mengatakan, batu tersebut dari kebun dibawa pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar 1 km untuk disimpan.

“Setiba di rumah warga yang mendengar ada penemuan batu tersebut langsung berbondong-bondong datang ingin melihat langsung penemuan kapak batu tersebut,” kata dia.

Zaman Batu Muda
Balai arkeologi Palembang belum dapat memastikan batu tersebut peninggalan zaman Paleolitikum, Neolitikum, atau Mesolitikum. Namun, kata Nurhadi Rangkuti, dilihat dari bentuk batu yang diukir dengan rapi dan bersih, kemungkinan peninggalan masa neolitikum 3.000 tahun lalu.

Ini masuk Zaman Batu Muda dengan kehidupan manusia purba sudah mulai menetap di gua, bercocok tanam, dan beternak. Batu diasah merupakan salah satu ciri kebudayaan pada masa itu. Tapi, di Dusun Muaratenang itu arkelog belum menemukan peninggalan sejarah.
“Mungkin dibuat dari batu gamping keras, ada kapak seperti itu dari masa prasejarah di daerah gua. Kita mesti meneliti lebih lanjut untuk memastikannya,” kata Nurhadi.

Awal Maret lalu, arkelog menemukan rangka manusia neolitikum di Gua Harimau, Baturaja OKU. Kapak batu di Pagaralam itu bahannya mirip peralatan batu jenis rijang (batu kapur keras kecoklatan) yang dibentuk jadi kapak perimbas, kapak penetak, dan alat serpih untuk menguliti dan mengiris di Gua Harimau. Kemungkinan manusia purba dua daerah itu ada hubungannya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pagaralam, Syafrudin, mengatakan, kendala yang dihadapi saat ini di Pagaralam belum memiliki museum sehingga masih belum bisa menghimpun semua benda bersejarah yang ditemukan.

“Pagaralam merupakan daerah yang cukup banyak memiliki benda bersejarah peninggalan masa lalu, selain itu Pagaralam juga merupakan kota perjuangan, wajar kalau banyak ditemukan benda bersejarah,” katanya.(her/ahf)

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas