• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Sumsel Kirim 4.600 Ton Duku

Kamis, 11 Maret 2010 08:48 WIB
Sumsel Kirim 4.600 Ton Duku

Ilustrasi.

upload.wikimedia.org

SUDAH sejak lama Sumatera Selatan dikenal sebagai penghasil duku. Terutama duku Komering. Kemasyhurannya sampai ke seantero Tanah Air. Namun di Jakarta, orang lebih mengenalnya sebagai duku Palembang.

 Saking banyak orang yang menyukainya, musim buah tahun ini Sumsel mengirimkan sedikitnya 6.400 ton duku ke luar. Tak terbayangkan berapa banyak jumlah duku ribuan ton itu jika dihitung per butir. Duku-duku itu membanjiri pasar modern dan tradisional di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bangka, Medan, dan Padang. Bahkan sampai ke Malaysia.

 Meski di Jakarta orang lebih mengenalnya sebagai duku Palembang, sentra penghasil duku Komering di Sumsel terletak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Dua daerah ini memproduksi sekitar 8.000 ton duku per tahun dan sudah berlangsung sejak 200 tahun lalu.

 Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura OKU Timur, Ir H Tubagus Sunarseno MSi didampingi Kabid Hotrikultura, Ir Ruzuan Effendi, mengatakan, luas areal tanaman duku di OKU Timur mencapai 2.183 hektare dengan tingkat produksi mencapai 4.288 ton pada awal tahun 2009.

 “Sebanyak 80 persen total produksi itu dikirim ke luar Sumsel. Sisanya 20 persen konsumsi lokal seperti ke Palembang, Baturaja, dan lainnya,” kata Razuan, Minggu (7/3).

 Disebutkan, areal tanaman duku Komering di OKU Timur tersebar di wilayah Kecamatan Madang Suku I (466) ha, di Kecamatan Cempaka (801) ha, Semendawai Barat (235) ha, Kecamatan Buay Pemuka Peliung (155) ha.

 Sisanya tersebar di Kecamatan Martapura, Bunga Mayang, Kecamatan Jayapura, dan lahan penduduk sepanjang aliran sungai Komering hingga batas Kabupaten OKU Selatan.

“Untuk produksi pada 2008 lalu sebesar 3.821 ton lebih. Untuk panen tahun ini diperkirakan produksinya akan jauh lebih meningkat karena sudah ada penambahan luas areal yang telah dilakukan dalam tiga tahun terakhir,” terangnya.

 Hal senada dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten OKI, Ali Amir SH MM. Kapasitas produksi daerah ini tak jauh beda dengan OKU Timur dengan pengiriman ke luar Sumsel kisaran 60-80 persen.

 “Daerah tujuan tersebar di Jakarta pasar Induk Kramatjati, Cibitung, dan Muara Angke. Bandung, Semarang, Surabaya, Bangka, Padang, dan Medan banyak juga. Tahun lalu malah dikirim ke Malaysia via pesawat,” kata Ali.

 Peremajaan Besarnya manfaat duku bagi perekonomian warga, Pemkab OKU Timur bertekad mempertahankan keberadaan duku varietas Komering. Ruzuan Effendi menegaskan duku Komering sebagai salah satu tanaman buah unggulan dan perlu dibudidayakan secara serius sebab jika tidak tanaman duku yang ada sekarang ini tidak akan berproduksi lagi dalam hitungan beberapa tahun mendatang.

 “Kebanyakan batang duku milik warga itu merupakan tanaman duku yang sudah tua yang kepemilikannya secara turun-temurun,” imbuhnya.

 Menurut dia, untuk mengantisipasi hilangnya duku komering yang sudah terkenal di luar Sumsel itu diperlukan langkah pembudidayaan secara serius. Di antaranya melalui pembukaan lahan tanaman duku baru. Selain itu juga memberikan bantuan bibit buah duku secara simultan pada petani. Terutama yang bermukim di sekitar pesisir Sungai Komering.

 Pada tahun ini lahan tanaman duku akan diperluas secara swadaya oleh masyarakat. Selain perluasan lahan yang dipelopori oleh pemerintah daerah melalui pembagian bibit duku cuma-cuma sebanyak 3.500 batang yang akan ditanam di areal dengan luas 35 ha lagi.

 Masak Batang Sementara di OKI, Desa Cinta Marga Kecamatan Teluk Gelam terkenal dengan pohon dukunya. Batangnya diperkirakan berusia ratusan tahun lebih.

Roni (37), pemilik 110 batang duku di desa itu, mengaku menjual duku dengan batangan secara borongan. Untuk 110 batang duku, dia menerima sekitar Rp 40 juta.

 “Saya perkirakan duku di kawasan kebun duku ini ribuan batang. Pemiliknya banyak. Satu orang bisa memiliki 100 batangan pohon duku,” kata Roni sambil membersihkan pohon.

 Menurut dia, batang duku dibersihkan setiap tahun paling tidak 3 kali. Jika tidak, hasilnya minim karena terserang penyakit. Buah dukunya warna kekuningan dengan permukaan halus dan bersih. Beda dengan runtuhan yang kulitnya menghitam dan rasanya tidak begitu manis dibanding duku masak petikan dari batang.

 “Saat menjelang musim buah duku di sini harganya mencapai Rp 6.000 per kilogram, bahkan lebih. Tetapi sekarang ini dukunya sudah banyak dan harga duku turun jadi Rp 4.000 kg,” kata Roni. (ahf/hr/std)

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
29388 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas