• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Manusia Neolitikum Huni Gua Harimau

Sabtu, 7 Maret 2009 07:09 WIB

PALEMBANG, SRIPO — Empat fosil kerangka manusia prasejarah di Gua Harimau, Desa Padangbindu, Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), diperkirakan hidup dalam masa peralihan mesolitikum ke awal neolitikum. Mereka adalah cikal bakal manusia purba yang hidup bercocok tanam. Manusia Neolitikum itu sekitar 3.000 tahun lalu diperkirakan menghuni Gua Harimau.
“Ini dapat dilihat dari penemuan lain di dalam gua selain kerangka (lukisan di dinding gua dan kalung berbandul taring babi hutan, Red). Mereka berasal dari awal neolitikum. Transisi dari mesolitikum, tapi belum ada pemujaan nenek moyang seperti di Basemah,” kata Nurhadi Rangkuti, Kepala Balai Arkeologi Palembang kepada Sripo, Jumat (6/3).
Seperti diberitakan harian ini kemarin, Bupati OKU Yulius Nawawi mengungkapkan hasil penemuan manusia prasejarah di Gua Harimau. Penemunya adalah tim Pusat Penelitian Arkelogi Nasional (Puslit Arkenas) yang dipimpin Prof Dr Truman Simanjuntak. Yulius
berencana untuk mengamankan penemuan itu sekaligus mengungkapkan akan menjadikan kawasan Gua Harimau sebagai cagar budaya.
Menurut Nurhadi Rangkuti, peradaban dan kebudayaan manusia purba di Gua Harimau itu bahkan lebih tinggi dari manusia nusantara lainnya pada masa yang sama. Ini dapat dilihat dari ditemukannya hiasan manik-
manik dari batu dan kalung dengan bandul taring babi hutan.
Satu penemuan yang menakjubkan, kata Rangkuti, adalah lukisan di dinding menggunakan pewarna oker (jenis tanah merah kecoklatan). Ini temuan pertama lukisan dalam gua di Sumatera. Selama ini hanya ada di Sulawesi Selatan, Kalimantan, dan Papua.
“Ini penemuan besar, di gua prasejarah sudah biasa ketemu rangka. Ini penting dibanding dengan lukisan dalam gua di Sulsel dan Kalimantan. Di Jawa pun belum ada,” katanya.
Lukisan di Gua Harimau berupa gambar motif anyaman, hewan berkaki empat, dan cap tangan mirip dengan lukisan di Gua Maros Pangkep Sulsel. Bedanya, dan ini salah satu bukti peradaban di Sumsel lebih maju, cap tangan di Sulsel langsung menempelkan cap tangan manusia purba ke dinding. “Sedangkan di Gua Harimau, oker dilukiskan pada sisi tangan dan jari,” kata Rangkuti.
Cap tangan itu perlambang pengakuan manusia purba pernah menetap di gua, hewan berkaki empat adalah buruan mereka, yakni babi atau rusa. Sedangkan motif anyaman merupakan seni ukiran di tembikar. Bisa jadi juga motif songket yang sudah digunakan pada zaman neolitikum. Kemungkinan mereka ini adalah pelopor manusia purba berpakaian. “Maknanya kita belum tahu, masih dipelajari. Yang pasti kebudayaan mereka sudah cukup tinggi,” ujar Rangkuti.
Hasil penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Depbudpar RI, selain menemukan rangka, juga mendapati peralatan batu yang sudah diasah. Batu jenis rijang (batu kapur keras warna coklat yang diambil dari sungai dekat gua) dibentuk jadi kampak perimbas, kampak penetak, dan alat serpih untuk menguliti dan mengiris.
Ditambahkan, peralatan ini digunakan oleh manusia purba pada zaman neolitikum (bercocok tanam), merupakan fase atau tingkat kebudayaan pada zaman prasejarah yang mempunyai ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar.
Alat-alat batu sudah diasah atau dipoles sehingga halus dan indah. Tembikar tenun dan batik juga sudah dikenal. Pada masa batu muda, manusia mulai menetap dan membangun pertanian dengan peralatan-peralatan sederhana seperti beliung yang ditemukan tersebar di kepulauan Nusantara bagian barat. “Mereka makan dari daging hasil berburu serta mengonsumsi pisang dan umbi talas,” jelas Rangkuti.
Dugaan ini diperkuat temuan gerabah (tembikar) dan sisa-sisa makanan tulang binatang. Namun demikian, belum dapat dibuktikan apakah manusia purba itu berkeluarga menghuni dalam gua atau hanya sekadar singgah sementara untuk kemudian pindah ke gua lain. “Sepertinya mereka tidak menetap di gua itu, tapi menggunakannya sementara. Pertanyaannya, mereka migrasi dari mana. Mereka ini hidup pada zaman transisi mesolitikum ke awal neolitikum, 3.000 tahun lalu,” ujar Rangkuti.
Pada masa mesolitikum, zaman batu tengah (setelah paleolitikum, zaman batu tua). Alat-alat batu zaman ini sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut.
Menurut Rangkuti, hunian paling tua di Sumsel berusia 12 ribu tahun lalu pada masa megalitik (paleolitikum) ditemukan di Basemah. Sementara di Ogan, paling lama di Gua Beringin meski ada kemungkinan kehidupan sebelum masa itu.
Mata Bor Patah
Kristantina Indriastuti, peneliti dari Balai Arkeologi (Balar Palembang) yang diajak tim Puslit Arkenas dalam penelitian di Gua Harimau menuturkan, tim tiba di Baturaja 17 Fabruari lalu dan setelah mendapat izin mulai bekerja keesokan harinya. Penelitian di Gua Harimau sudah direncanakan sejak setahun yang lalu, berawal dari informasi pemilik rumah makan di pinggir jalan Baturaja-Martapura.
Dua hari bekerja, rangka manusia itu ditemukan. Itu pun secara tidak sengaja. Menurut Kristantina, mereka sedang meneliti fosil tumbuh-tumbuhan yang pernah tumbuh di gua untuk mengetahui lebih lengkap masa purba. Pada satu titik, mata bor yang digunakan untuk menembus tanah patah, setelah itu dilakukan penggalian.
“Tak disangka kami menemukan tulang rusuk. Setelah digali lagi, ternyata kerangka utuh manusia purba. Mata bor yang patah tepat di samping kepala dan masih tertanam di sana,” kata Kris.
Kemudian penggalian dilanjutkan di titik lain hingga ditemukan empat kerangka manusia purba sejenis. Metode penentuan titik penggalian sederhana saja, tim memilih tanah lapang di dalam gua yang dijangkau sinar matahari. “Lokasi itu pasti pernah ada aktivitas manusia purba,” kata Kris.
Untuk sementara penelitian dihentikan karena tim arkeologi kemarin hanya memiliki waktu kerja 14 hari. Sembilan arkeolog dari Puslit Arkenas Depbudpar RI sudah pulang ke Jakarta. Kristantina, mengatakan, penelitian akan dilanjutkan tahun depan. Sementara lubang situs purbakala tempat ditemukannya fosil manusia prasejarah itu ditutup dengan papan dan tanah, serta diberi tanda kayu besar. Kristantina khawatir meninggalkan rangka di Gua Harimau tanpa penjagaan. Pengalaman di Gua Selabe, rangka hilang dicuri orang. “Tim belum berani mengangkat fosil karena harus dengan proses yang benar. Rencananya konsultasi terlebih dahulu dengan teman-teman di luar negeri,” katanya.
Nurhadi Rangkuti, membenarkan hal itu. Menurutnya, prosedur baku pengangkatan fosil nantinya rangka akan dimasukkan dalam kotak bersama tanah di sekitarnya. Tanah tersebut digunakan sebagai pendukung penelitian peradaban dan kebudayaan pada masa itu.
“Baru kemudian dilakukan konservasi, bisa dibuat tiruan rangka dari fiber yang sama persis. Setelah penelitian selesai, bisa jadi di pulangkan ke lokasi atau masuk museum,” kata Rangkuti.
Kehidupan manusia prasejarah sebelumnya pernah ditemukan di Gua Putri, Gua Selabe, Gua Karangpelabuhan, dan Gua Beringin. Keempat gua tidak begitu jauh dari Gua Harimau. Di Gua Selabe, kata Kristantina, ditemukan rangka manusia yang hidup 5.000 tahun lalu pada kedalaman 3 meter. “Sedangkan di Gua Beringin lebih tua lagi, yaitu 9.000 tahun tetapi tidak ditemukan kerangka,” katanya.

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas