• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Raden Pernah Ditangkap Polisi

Minggu, 6 September 2009 11:56 WIB
NAMA Raden Aiyon Suharis Restuningrat kini menjadi pergunjingan publik nasional. Jika janjinya terwujud, Lebaran kali ini saja ia harus mengeluarkan Rp 55 triliun untuk memberikan modal kerja bagi makmum atau anggota Yayasan Amallillah yang ia dirikan sejak tahun 1999.

Seperti diberitakan harian ini kemarin (Sripo 5/9), Yayasan Amallillah Pusat (YAP) menyelenggarakan pertemuan dengan pengurus se-Sumatera di Sukajadi, Banyuasin. Di sana pada pengurus diminta untuk mendaftarkan diri dan menyerahkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) untuk menerima dana yang digelontorkan Ketua YAP, Raden Aiyon Suharis Restuningrat.

Masing-masing anggota--biasa disebut makmum--dijanjikan mendapat Rp 5 juta, yang bakal diterima menjelang Lebaran. Anggota YAP di Sumsel-Bangka, diklaim sebanyak 3 juta orang sehingga total dana yang diberikan Rp 15 triliun, sedangkan secara nasional anggotanya berjumlah 10 juta orang, sehingga kalau benar YAP akan menggelontorkan dana Rp 50 triliun. Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Abdul Gofur mengingatkan masyarakat untuk hati-hati karena bisa jadi apa yang dijanjikan Amallillah merupakan modus penipuan.

Yatim Piatu Koordinator Amallillah wilayah Karawang yang mengaku bernama Tiyo mengatakan, Raden Aiyon adalah sosok yang ahli mengelola dana yang diterima dari donatur. “Dia punya banyak relasi dan donatur yang siap memberikan sebagian dana untuk diberikan membantu kaum menengah ke bawah,” jelasnya kepada Persda Network, Sabtu (5/9). Selain itu, Raden diketahui memiliki saham di sebuah perseroan terbatas yang memiliki aset terbesar di Indonesia. “Kurang tahu juga pastinya, tapi lumayanlah, sekitar 20 persen,” klaimnya.

Raden Aiyon juga dikabarkan memiliki perusahaan yang bergerak di bidang entertainment (hiburan). “Namanya Guswara Entertainment,” tuturnya. Bisnis itu ditekuninya karena bakat bermusik yang besar yang dimilikinya.

Pria yang dikenal namanya tapi jarang dijumpai sosoknya tersebut, kini mengklaim memiliki 10 juta anggota atau makmum. Pria yang sudah menjadi yatim piatu sejak kecil itu, bukan tipe mudah menyerah dan mengeluh. Saat harus bermukim di wilayah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, dia tetap survive. “Itu yang bikin dia mendirikan Amallillah yang bertujuan membantu orang miskin,” cerita Tiyo.

Di matanya, Raden, yang kini menjadi atasannya, merupakan sosok yang murah senyum, loyalis, humoris dan perhatian terhadap anak buah. “Dia orangnya juga amanah. Suka menyantuni kaum jompo dan anak yatim piatu. Mungkin karena dia punya hubungan erat dengan itu,” ungkapnya. Sifat-sifat tersebut membuat Raden sukses membesarkan Amallillah hingga terdapati keberadaannya di sekitar 7 negara di dunia.

Ditangkap Polisi Namun demikian, “kehitaman” sempat juga menggelayuti sosok Raden. “Dia pernah ditangkap polisi waktu itu karena dituduh melakukan penipuan. Kalau Amallillah penipu, mungkin Amallillah sudah tutup sejak lama,” ungkapnya berapi-api. Raden akhirnya lolos dari jerat hukum karena tidak terbukti melakukan tindak pidana penipuan seperti yang dituduhkan kepadanya. “Sekitar tahun 2005 atau 2006 itu,” tuturnya.

Diakuinya, tidak ada seorang pun yang mempercayai Yayasan pimpinan Raden itu. “Nggak ada yang pernah percaya sama Amallillah 100 persen. Itu yang menyebabkan Raden diburu sama polisi dikira inilah dikira itulah,” jelasnya.

Raden merupakan pria yang misterius. Hanya ada informasi Raden bermukim di Bogor bersama istrinya. Raden hampir tidak pernah menampakkan batang hidungnya di Kantor Pusat Yayasan Amallillah. Yayasan itu hanya dijaga oleh anak buahnya beserta keluarga yang bermukim di bawah ruangan yang berada di lantai 2 tersebut.

Lantai satu Yayasan Amallillah hanya sebuah ruangan yang berisi mimbar berukuran lumayan besar. Tidak ada yang dapat memberitahukan Persda, fungsi ruangan tersebut. Pengurus tidak ada di Yayasan pada hari Sabtu dan Minggu. Informasi dari sang koordinator tertutup rapat setelah pihak keluarga menyadari kehadiran Persda. Semua informasi tertutup seketika. Ruangan lantai dua yang hendak disambangi Persda melalui sarana tangga spiral yang mengaksesi lantai satu dengan lantai dua, ditetapkan forbidden (dilarang masuk).

Dari keterangan warga sekitar, informasi perihal Raden tidak banyak ditemukan. “Kenal namanya, tapi mukanya nggak. Habis nggak pernah datang juga kemari,” ungkap seorang warga yang berada di pintu masuk jalan setapak menuju Amallillah. Hal senada diungkapkan Ayu, janda berputri satu tersebut mengaku sangat mengenal nama Raden. “Tapi mukanya nggak tahu,” ujarnya. Nama raden bahkan melalang buana hingga melintasi Rukun Warga. Amallillah tercatat berada di lingungan RW 008, namun, Husin, warga 011 mengaku sangat mengenal nama Raden. Karena tidak pernah berada di lingkungan Yayasan, Raden pun diketahui tidak pernah menyantuni para warga kelas menengah ke bawah.

(persda network/cr1)

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
17787 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas