A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Makna Ritual dan Sosial dalam Ibadah Haji dan Qurban - Sriwijaya Post
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 17 April 2014
Sriwijaya Post
Home » Opini

Makna Ritual dan Sosial dalam Ibadah Haji dan Qurban

Jumat, 4 Desember 2009 08:46 WIB

QURBAN berasal dari kata Qoroba yang artinya mendekatkan diri. Dalam konteks keislaman bermakna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah haji juga bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT (agar menjadi haji yang mabrur) bukan untuk pelesiran, melancong, jalan-jalan, berbelanja dan lain sebagainya. Ibadah haji dan Qurban bukan cuma ibadah ritual tapi juga kita maknai sebagai ibadah sosial. Sayangnya, sebagian umat Islam masih memiliki sikap mental yang belum benar-benar terbentuk sesuai dengan pola yang dikehendaki. Hal ini dikarenakan ajaran-ajarannya (ibadah haji dan Qurban) yang selama ini kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari boleh jadi masih terbatas pada segi rutinitas ritual belaka dan tidak menyentuh aspek sosial kemasyarakatan.  

Makna ritual ibadah haji antara lain wukuf, thawaf, sa’i, tahallul, melontar jumrah dan sebagainya. Sedangkan makna sosialnya dapat disosialisasikan di lingkungan kita terutama oleh mereka yang pernah menunaikan ibadah haji semisal kemampuan menahan diri, bersikap sabar, ikhlas dan kepedulian sosial menuju yang lebih baik. Karena ciri haji yang mabrur itu adalah jika meningkat ibadahnya, semakin mantap imannya, semakin kasih dan peduli dengan sesama. Begitu juga dengan ibadah Qurban. Selain memiliki makna ritual juga mengandung makna sosial. Oleh karena itu umat Islam yang merayakan ‘Idul Qurban seharusnya berupaya menggali makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai ibadah Qurban ini hanya menjadi rutinitas tanpa makna dan hikmah. Hanya sampai pada proses penyembelihan hewan kurban, mendistribusikannya dan pesta sate sepuas-puasnya.

Allah SWT melukiskan kisah indah nan haru pengorbanan Nabi Ibrahim As dan putranya Ismail As sebagai ibrah yang sangat berharga bagi umat manusia. Kisah ini berawal dari mimpi Nabi Ibrahim As untuk menyembelih putranya Ismail. “Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu ...?” (QS 37: 102). Sungguh tugas yang maha berat tetapi mulia pada sisi Allah SWT. Akhirnya Nabi Ibrahim tetap akan melaksanakannya. Ismail berkata: “Wahai bapakku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Akan kamu dapati aku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.” (QS 37: 102).

Diriwayatkan dalam kitab Durrah yang ditulis Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawi, di saat pisau Nabi Ibrahim hampir sampai di tenggorokan Ismail, saat itu para malaikat di langit berseru: “Ya Allah leher itu ... Ya Allah leher itu! Lalu mereka bersujud kepada Allah karena tidak kuasa menyaksikan prosesi penyembelihan itu. Allah SWT dengan bangga berseru kepada mereka: “Perhatikanlah hai para malaikat-Ku, bagaimana seorang hamba-Ku Ibrahim dan Ismail menaati perintah-Ku karena semata-mata mengharap ridha-Ku, dan seandainya seluruh malaikat-Ku membawa leher-leher mereka, maka tidak akan dapat menyamai dan menebus leher Ismail.”

Akhirnya Allah SWT memberikan pertolongan kepada keduanya dengan mengganti sembelihan itu dengan seekor kibas sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami tebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar (seekor domba/kibas).” (QS 37: 107). Rasa haru dan suka cita menyelimuti mereka berdua, bahagia telah mampu melaksanakan perintah Allah SWT dengan penuh keimanan kepada-Nya. Allah SWT memuji dan mengapresiasi ketaatan Nabi Ibrahim: “Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS 37: 105). Kemudian Allah SWT merestuinya: “Salamun ‘alaa Ibrahim (kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim).” (QS 37 : 109).

Cuplikan kisah barusan mengandung sedikitnya tiga hikmah:
n  Bersabar atas segala sesuatu. Sabar artinya kemampuan menahan diri terhadap perbuatan negatif yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Sabar dalam menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Sabar dalam mempertahankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
n  Jujur dalam melakukan sesuatu. Perhatikanlah bagaimana Allah SWT memuji kejujuran Nabi Ibrahim As dengan menyatakan: “Qod Shoddaqta Ar-Ru’ya.” Rasulullah SAW sebelum menjadi Nabi pernah mendapat gelar Al-Amin (orang yang dapat dipercaya) oleh orang-orang Quraisy. Pemerintahan yang jujur dan bersih dari KKN akan dapat memberikan secercah angin segar bagi masyarakat bangsa Indonesia dalam membangun kembali serta bangkit dari keterpurukan nasional selama ini.
n Ketaatan merupakan pembuka pertolongan. Nabi Ibrahim As sosok orang tua yang ideal. Seorang yang lebih mencintai Allah SWT dari pada keluarganya. Ketaatannya kepada Allah SWT lebih besar dari cinta beliau kepada anaknya. Inilah sikap seorang mukmin yang sesungguhnya. Bukankah Allah SWT pernah berfirman: “Orang-orang yang beriman itu lebih tinggi cintanya kepada Allah.” (QS 2: 165).

Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
22233 articles 17 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas